Ini Penjelasan Ahli Soal Pergerakan Tanah di Bojongkoneng

by -
JALAN RUSAK: Jalan utama ikut rusak atas bencana tanah bergerak di Desa Bojongkoneng, Kecamatan Babakanmadang, Kabupaten Bogor.

METROPOLITAN.id – Peneliti Bumi Madya pada Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Agus Budianto mengungkap banyak hal terkait fenomena pergerakan tanah di Desa Bojongkoneng, Kecamatan Babakanmadang, Kabupaten Bogor.

Pergerakan tanah di Bojongkoneng disebutnya merupakan longsoran tipe rayapan.

“Karena kita geologi, kita melihat adanya pondasi dari batuan tanah yang bergerak, dan kita menemukan adalah lapisan lempung di situ. Nah lapisan lempung itulah yang merupakan bidang yang gelincir yang ada di sana,” ujar Agus di Cibinong, Jumat (23/9).

Jika dilihat, daerah terjadinya pergerakan tanah mungkin dahulu terbilang aman. Namun ketika vegatasi di wilayah tersebut hilang, air hujan yang turun mudah membuat tanah jenuh.

“Air bergerak dengan mudah dan membawa lapisan tanah di bawahnya yang didasari lapisan lempung,” ungkapnya.

Untuk antisipasi jangka pendek, masyarakat perlu menghindari zona-zona yang sudah terjadi retakan. Sebab, ancamannya bukan hanya terjadi retakan yang bisa mengakibatkan bangunan roboh tetapi bisa sampai membuat amblas tanah.

“Karena ancamannya bukan hanya bangunan roboh, tapi bisa jeblos kedalam, dan itu membahayakan,” jelas Agus.

Menurutnya, kedalaman amblasan berbeda di tiap lokasi. Di pinggiran, kedalaman amblas sekitar 1 meter. Ada juga yang amblasnya mencapai kedalaman 1,5 neter.

“Dan itu bevariasi, kalau kita liat di jalan itu kan bervariasi, ada setengah meter tapi retaknya masif, dan itu membahayakan. Dalamnya kawasan lembah cekungan, zona aliran air yang berarah Utara Selatan,” katanya.

Baca Juga  Heboh Pesan Berantai Tekan Cancel Dua Kali di Mesin ATM Bisa Hindarkan Pencurian, Apa Iya?

Agus mengimbau sebaiknya warga di lokasi pergerakan tanah keluar dari wilayah terdampak karena masih berpotensi terjadi pergerakan tanah. Karena sudah terjadi pergerakan tanah, wilayah tersebut juga jadi zona mudah bergerak dalam periode waktu terntentu

“Tidak bisa diprediksi, tetpi kita tau begitu sudah pernah terjadi akan berulang kembali, karena sebelumnya ada pergerakan di sebelahnya,” tandasnya.

Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor memaparkan hasil incestigasi terhadap fenomena pergerakan tanah di Bojongkoneng, Kecamatan Babakanmadang, Kabupaten Bogor. Hasilnya, daerah tersebut memang masuk wilayah rayapan tanah yang pergerakannya perlahan.

Kepala BPBD Kabupaten Bogor, Yani Hasan mengatakan, pihaknya juga meminta bantuan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk melakukan investigasi.

Dari hasil ivestigasi, pergerakan tanah dipicu hujan yang cukup deras di wilayah tersebut.

“Jadi sekarang ada istilah baru namanya rayapan tanah, bergeraknya secara perlahan. Bahwa di situ memang merupakan daerah yang berpotensi rayapan tanah,” ujar Yani Hasan, Jumat (24/9).

Baca Juga  Pengemudi BMW yang Tabrak Apotek Senopati Ternyata Mahasiswa Trisakti

Menurutnya, rayapan tanah berbeda dengan longsor. Longsor terjadi seketika. Namun rayapan tanah terjadi pelan-pelan.

“Mungkin hanya 50 centimeter per hari, satu meter per hari, dan seterusnya. Untuk selanjutnya teman-teman dari BRIN, dari vulkanologi akan tetap memantau, menginvestigasi, karena ini juga harus ditindak lanjuti, tidak cukup sekadar melihat dalam satu dua tiga hari ini. Kita melakukan pemantauan terhadap yang tadi disimpulkan. Ditempat-tempat tertentu sudah terjadi retakan tanah, ini juga diisi air semakin berpotensi rayapan tanah,” ungkapnya.

Atas kondisi tersebut, langkah pertama yang dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor adalah mengamankan warga dari bencana tersebut.

Selanjutnya, jika diperlukan relokasi, pihaknyabakan melakukannya. Sementara untuk sarana jalan, akan diperbaiki perlahan agar masyarakat bisa beraktivitas.

“Kesimpulan berikutnya, di daerah retakan-retakan, masyarakat tidak lagi diperkenankan (aktivitas), nanti kita bantu pakai semacam police line, semacam rambu bahwa mereka tidak dapat melakukan kegiatan,” terang Yani Hasan.

Sebagai langkah antisipasi, pihaknya juga bakal mengusulkan pemberlakukan moratorium pembangunan di wilayah tersebut. Yani Hasan juga ingin ada kajian terhadap bangunan-bangunan yang sudah ada karena wilayah itu masuk daerah wisata agar tak ada korban jiwa di kemudian hari.

“Daerah tersebut memang daerah yang gampang terjadi rayapan tanah, nah ini dipicu oleh kegiatan pembangunan juga, bukan dipicu yah, bisa lebih mempercepat terjadinya seperti itu. Tapi itu bukan masalah faktor utama. Nanti kita mengusulkan moratorium terhadap pebangunan untuk menghindari, untuk pencegahan dari pembukaan itu menjadi pergeseran tanah,” jelasnya.

Baca Juga  Warga Gunungsindur Sempat Takut Saat Temukan Korban Begal, Korban Diminta Lapor ke Tangerang

Yani hasan membeberkan, pergerakan tanah di Bojongkoneng mulai terjadi pada 12 September lalu. Di wilayah tersebut ada semacam lapisan clay atau semacam lempung yang jika tertembus bisa mengakibatkan pergeseran.

“Kita dibantu dengan teknologi menerbangkan drone setinggi 250 meter, di situlah kita bisa melihat ada beberapa retakan yang tidak bisa kita liat dari pinggir jalan, itu bahaya bisa jeblos orang,” tandas Yani Hasan.

Sebelumnya, pergerakan tanah di Bojongkoneng mengakibatkan sedikitnya 278 KK atau 1.020 jiwa terdampak.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor per Selasa (20/9), pukul 10.20 WIB, ada sebanyak 246 unit rumah terdampak.

Sedikitnya, 9 unit rumah mengalami rusak berat dan 73 unit rumah rusak sedang. Selanjutnya, 1 unit fasilitas pendidikan dan musala  juga terdampak.

Selain itu, ruas jalan Kampung Curug juga mengalami kerusakan sehingga tidak dapat dilewati semua jenis kendaraan. (fin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *