Jika Relokasi Dilakukan, Pemkab Bogor Ingin Bangun Rumah Tahan Gempa

by -

METROPOLITAN.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor sedang menyiapkan langkah jangka panjang untuk menangani fenomena pergerakan tanah di Desa Bojongkoneng, Kecamatan Babakanmadang. Bahkan jika nanti diperlukan relokasi, Pemkab ingin bangunan yang dibuat untuk warga memiliki spesifikasi tahan gempa.

Plt Bupati Bogor Iwan Setiawan mengatakan, untuk penanganan jangka panjang, pihaknya akan akan membuat rekomendasi terkait status tanah di wilayah terdampak pergerakan tanah.

Hal itu dilakukan agar jangan sampai terjadi kembali peristiwa serupa, sementara masyarakat masih bermukim di atas tanah tersebut. Untuk itu, ia ingin ada kajian mendalam di lokasi terdampak.

“Jadi memungkinkan bagi yang terdampak akan kita lakukan relokasi ke zona aman. Tapi saya ingin ada kajian yang lebih maksimal, agar saat kita relokasi tidak ada lagi yang tinggal di atas tanah ini,” ujar Iwan, Selasa (20/9).

Nantinya, jika relokasi harus dilakukan, Iwan ingin rumah yang dibangun berbeda dari rumah-rumah yang ada. Dalam arti, ia ingin rumah warga terdampak dibangun dengan desain khusus anti gempa.

“Nantinya kualitas rumah yang dibangun pun harus berbeda, yakni yang didesain khusus anti gempa,” ungkapnya.

Baca Juga  Nikmatnya Relaksasi Di Pemandian Air Panas Cisolok

Untuk tempat relokasi, Iwan menyebut di wilayah Babakanmadang masih banyak tanah milik pemerintah. Ia akan membangun komunikasi dengan pihak pihak lain agar proses relokasi berjalan baik, cepat dan mudah.

“Untuk relokasi, di daerah ini masih banyak tanah yang milik pemerintah. Kita juga akan berkoordinasi dengan pihak lainnya agar relokasi bisa dilakukan dengan baik dan mudah-mudahan prosesnya bisa cepat,” tandas Iwan.

Iwan juga berjanji segera mencairkan anggaran sewa rumah untuk warga yang terpaksa mengungsi akibat bencana pergerakan tanah di Desa Bojongkoneng, Kecamatan Babakanmadang, Kabupaten Bogor.

Iwan menyadari tinggal di pengungsiang tidaklah nyaman. Untuk itu, ia ingin warga yang rumahnya tak bisa ditinggali atau berisiko terdampak tinggal di rumah sewaan untuk sementara waktu.

“Kami akan segerakan untuk mencairkan biaya sewa tempat tinggal, karena bagaimanapun tinggal di pengungsian tidaklah nyaman,” kata Iwan.

Menurutnya, Pemkab Bogor telah menetapkan status tanggap darurat bencana pergerakan tanah di Bojongkoneng. Dengan demikian, penanganan pasca-bencana akan dimaksimalkan dengan anggaran dari pos belanja tidak terduga (BTT).

Iwan juga telah meninjau langsung ke lokasi bencana pada Senin (19/9) sore. Kedatangannya ke Bojongkoneng untuk memastikan kebutuhan warga terdampak bencana pergerakan tanah terjamin.

Baca Juga  Corona Meluas, Kota Bogor Liburkan Sekolah, Kabupaten Masih Nunggu Instruksi

“Kemudian untuk kebutuhan makan dan minum, dapur umum kita selalu siagakan. Selanjutnya, bagi yang terdampak secara psikis tentunya kita akan bantu lewat trauma healing,” ungkapnya.

Iwan menjelaskan, untuk penanganan jangka pendek, Pemkab Bogor sudah mengalokasikan anggaran untuk sewa tempat tinggal bagi warga terdampak.

Selanjutnya, bantuan makanan juga sudah disiapkan, baik dari Dinas Sosial (Dinsos) maupun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Selain itu, untuk membantu mobilisasi di lokasi yang sifatnya darurat, Pemkab Bogor sudah menurunkan alat berat untuk meratakan tanah agar bisa dilalui.

“Namun melihat kondisi tanah disini masih labil, kami masih gunakan alat ringan untuk membuat jalan sementara,” ungkapnya.

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada 41 warga mengungsi akibat bencana pergerakan tanah yang terjadi di Desa Bojongkoneng, Kecamatan Babakanmadang, Kabupaten Bogor. BNPB mengimbau masyarakat dan pemangku kebijakan di daerah agar tetap waspada dan meningkatkan kesiapsiagaan.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, 41 warga yang terdampak langsung terpaksa mengungsi ke dua titik lokasi yang lebih aman setelah tempat tinggal mereka mengalami kerusakan akibat adanya fenomena pergerakan tanah.

Baca Juga  PPKM level 4 Diperpanjang, Perbatasan Bogor Dijaga Ketat

“Dua lokasi yang menjadi tempat pengungsian itu meliputi Villa Roso, Kampung Curug, RT 02 RW 09 Desa Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang dan Posko Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor,” ujar Abdul Muhari dalam keterangan tertulis, Senin (19/9).

Hasil assesmen sementara, fenonema pergerakan tanah  dipicu oleh tingginya intensitas curah hujan pada Rabu (14/9). Laporan visual didapatkan beberapa ruas jalan mengalami kerusakan sehingga tidak dapat dilewati semua jenis kendaraan.

Beberapa rumah warga juga mengalami kerusakan di bagian dinding berupa retak hingga roboh di beberapa sisi.

“Hasil kaji cepat tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor per Senin (19/9), fenomena pergerakan tanah itu berdampak pada 170 KK/647 jiwa. Sebanyak 246 unit rumah terdampak, sedikitnya 9 unit rumah rusak berat dan 73 unit rumah rusak sedang,” tandasnya. (fin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *