Pedagang Mau Naikin Harga Takut Ditinggal Pembeli

by -
MELONJAK: Harga telur ayam di tingkat agen wilayah Kecamatan Kramatjati, Jakarta Timur, melonjak di kisaran Rp30 ribu hingga Rp31 ribu per kilogram pada Kamis (18/8).

METROPOLITAN – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite, Pertamax, dan Solar oleh pemerintah membuat sejumlah pedagang makanan keliling terkena im­basnya.

Kondisi ini membuat para pedagang yang berkeliling menggunakan kendaraan ber­motor ini dilema untuk menaik­kan harga produknya karena takut ditinggal pelanggan.

Hal itu diungkapkan Hasan, salah seorang pedagang mi­numan keliling. Saat ditemui di kawasan Tebet, ia mengaku tak tega menaikkan harga me­ski pendapatannya menurun sejak kenaikan harga BBM ini.

”Yang beli kebanyakan kan pelanggan. Kasian, mereka kan juga pendapatannya nggak ikut naik,” ungkap Hasan.

Bahkan, sejak saat itu Hasan mengalami penurunan pem­beli mencapai 20%. Menurut­nya, hal ini terjadi lantaran para driver ojek online (ojol), yang merupakan mayoritas pelanggannya ini, tengah me­minimalisasi konsumsi.

Baca Juga  Kenaikan Cukai Rokok Hancurkan Petani Tembakau

”Mungkin sekarang pada ngirit-ngirit keuangan. Jajan susah, apa-apa naik,” tambah­nya.

Meski hal ini berimbas pada penurunan pendapatannya yang semula bisa capai Rp500 ribu dan kini hanya Rp300 ri­buan, bagi Hasan, kondisi ini merupakan risiko sebagai seo­rang pedagang. Karena itu, ia berusaha mempertahankan harga jualnya demi para pelang­gannya.

Hal sama juga dirasakan Me­med. Pedagang siomay keliling ini bahkan mengaku berniat menaikkan harga jual pro­duknya. Namun, ia masih eng­gan melakukannya lantaran tak enak dengan para pelang­gannya.

”Mau naik ya tapi kan nggak enak sama pelanggan. Jadi, ya mungkin yaudah lah biar tang­gung aja dulu. Yang penting semuanya lancar dan tetap bisa jualan,” ujar Memed.

Baca Juga  Realme 64 MP Melenggang 8 Agustus

Karena itu, hingga kini ia ma­sih mempertahankan harga jualnya. Hal itu berimbas pada peningkatan modal hariannya.

Karena kondisi serupa, Rifki, pedagang siomay lainnya, memutuskan untuk menyia­satinya dengan mengecilkan ukuran siomaynya.

”Supaya harga jualnya nggak berubah, akhirnya saya agak kecilkan ukuran siomaynya,” ungkapnya.

Rifki mengatakan, kenaikan BBM ini memberikan pengaruh yang cukup besar bagi dana operasionalnya. Pasalnya, ia selalu membeli bahan baku jualannya ke pasar induk dalam kuantitas besar.

”Dampaknya ini cukup sig­nifikan. Yang biasanya belanja mungkin hanya Rp800 ribuan, sekarang bisa Rp1 juta lebih. Itu karena operasionalnya jadi mahal,” kata Rifki.

Meski demikian, Rifki ber­syukur semua bahan bakunya masih tersedia lengkap. Men­urutnya, dalam kondisi se­perti ini tidak ada yang bisa dilakukan pedagang selain melakukan penyesuaian kalau mau tetap berjualan.

Baca Juga  Empat Kios dan Satu Motor Dilahap si Jago Merah

”Untungnya bahan-bahan semua masih tersedia, kalau habis itu bakal lebih pusing lagi. Bagaimana pun juga yang penting masih bisa berjualan,” tambahnya. (dtk/eka/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published.