Pegawai Sekolah Diduga Selewengkan Bantuan Pendidikan hingga Rp99 Juta, Oknum Operator Tilep Duit Siswa

by -
ilustrasi

METROPOLITAN – Kabar mengejutkan datang dari du­nia pendidikan di Kota Bogor. SDN Rancamaya 2 diterpa isu penyelewengan duit bantuan pendidikan alias dana ban­tuan Program Indonesia Pin­tar (PIP) yang ditilep oknum pegawai sekolahnya berini­sial RH (48).

RH yang bekerja sebagai operator sekolah ini dikabar­kan menyelewengkan duit bantuan pendidikan periode 2020-2021 bagi 110 siswa di SDN Rancamaya 2. Hal itu dibenarkan salah seorang wali murid yang terkena dam­pak, Umar (50).

“Ada 110 siswa. Kalau yang sekarang itu dihitungnya (siswa, red) kelas 2 sampai kelas 6. Bahkan, ada pula mu­rid yang sekarang kelas 2 SMP seharusnya dapat juga. Saya sudah cek lewat website ma­suk sebagai penerima juga, tapi uangnya belum juga sam­pai ke tangan,” beber Umar saat ditemui di kediamannya, Senin (19/8).

Ia menjelaskan, kasus ini terungkap saat wali murid menerima buku Tabungan BRI Simpel yang diberikan pihak sekolah tahun ini. Di mana saat membuka isinya, wali murid dikagetkan dengan transaksi yang terjadi.

Baca Juga  Ini Hasil Evaluasi Sekolah Tatap Muka di Bogor Versi Disdik

“Jadi, awalnya kita dapat info dari wali murid sekolah lain soal bantuan pemerintah. Kemudian kita tanya ke pihak sekolah. Dan, dikasihkan lah buku tabungan ini karena sudah bergejolak di wali mu­rid,” paparnya.

“Kagetnya, pada 2020 dan 2021 itu masuk bantuan (ma­sing-masing, red) Rp450.000. Tapi, dalam transaksinya su­dah dicairkan. Sementara kita tidak merasa mencairkan. Soalnya kartu tabungan ini kan baru diserahkan tahun ini,” sambungnya.

Lalu, ia bersama wali murid lainnya pun mempertanyakan persoalan ini ke pihak sekolah. Di mana pihak sekolah me­nyebutkan bahwa uang ter­sebut sudah dicairkan RH dan digunakan secara pribadi oleh dirinya.

“Yang 2020 dan 2021 dicair­kan sama oknum itu dan di­gunakan pribadi uangnya. Kalau 2022 karena bukunya sudah dikasih ke wali murid, kita bisa mencairkannya. Ka­lau 2020-2021 (buku tabung­an) tidak pernah diberikan (ke wali murid),” terangnya.

Baca Juga  Dewi Sartika Sumber Kemacetan Uji Coba SSA

Sementara duit bantuan pendidikan ini sendiri berni­lai Rp450.000 per tahun bagi setiap siswa. Di mana jika diakumulasikan ada sekitar Rp99 juta yang seharusnya diserahkan kepada penerima manfaat.

“Iya kalau diakumulasikan mungkin gede. Per tahun Rp450.000. Kalau dua tahun berarti Rp900.000. Tinggal dikalikan saja sama 110 siswa,” ungkapnya.

Atas persoalan ini, ia ber­sama wali murid lainnya me­minta ganti rugi akan dana bantuan pendidikan tersebut. Sebab, bantuan ini dapat meringankan pihaknya untuk memenuhi kebutuhan seko­lah bagi anak-anaknya.

”RH ini sudah klarifikasi tadi di sekolahan pada Senin (19/8). Dia dihadirkan karena kita nuntut biar dihadirkan juga, soalnya sudah satu bu­lan ini (RH, red) dinonaktifkan dari pekerjaannya ini,” beber­nya.

“Disaksikan langsung per­wakilan wali murid dan di­sertakan surat bermaterai. Dia bilang mau bayar selambat-lambatnya Desember akhir. Kalaupun ada rezeki dua atau tiga hari besok mau langsung dibayar,” sambungnya.

Baca Juga  Suwiyo Imbau Muridnya tidak Jajan Sembarangan

Adapun dalam pertemuan itu juga sudah disepakati, apabila janji yang sudah di­buat tidak dapat ditepati, wali murid akan mengambil langkah hukum dengan mel­aporkan kasus ini ke pihak berwajib.

“Kita tanya juga, kalau nggak tepat janji siap nggak sama konsekuensinya, salah satunya dipolisikan, terus dia bilang siap kalau waktunya sampe meleset. Dinas juga sudah tahu soal kejadian ini. Dia (RH) ngaku sudah ditegur dan bi­lang hasil pertemuan tadi akan dilaporkan ke dinas,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bo­gor, Hanafi, mengaku sudah mengetahui persoalan ini. Yang bersangkutan sudah dipanggil jajarannya. “Hari ini dipanggil kepsek sama operatornya,” singkat Hanafi.

Hingga berita ini diturunkan, pihak sekolah yang bersang­kutan belum bisa dikonfir­masi.(rez/eka/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *