125 Orang Tewas Di Stadion Kanjuruhan. Pergi Sukacita, Pulang Bawa Duka

by -
BERDUKA: Aksi menyalakan lilin dan doa bersama suporter Persib Bandung untuk para korban di Stadion Kanjuruhan Malang di Cikapayang, Kota Bandung, Minggu (2/9). TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/RADAR BANDUNG

”Aku mau nonton bola ya, pak, bu!” ucapan itu masih terngiang-ngiang di telinga sejumlah orang tua yang kala itu mengizinkan anaknya pergi ke Stadion Kanjuruhan.

LAGA Arema FC versus Per­sebaya Surabaya menjadi pertandingan yang dinanti-nanti Aremania, panggilan para suporter Arema FC. Sa­lah satunya Faiqotul Hikmah (22), fans berat Arema FC yang bela-belain nonton klub kesayangannya bersama ka­wan-kawan sebelum akhirnya diantar mobil jenazah.

Sabtu, 1 Oktober 2022, Hik­mah pergi bersama rombong­an menuju Stadion Kanjuru­han. Tempat di mana Arema menjamu Persebaya Surabaya.

Sejak pertandingan berlangs­ung, suasana cukup terken­dali. Bisa dibilang aman dan tertib sampai kick off pukul 20:00 WIB. Walaupun sese­kali ada suporter Arema yang melontarkan psywar (ejekan, red) ke arah pemain Persebaya, sampai babak pertama selesai, semua masih kondusif.

Hingga akhirnya di ujung pertandingan saat peluit di­bunyikan, para pemain Arema tertunduk lesu dan kecewa atas kekalahan klub favoritnya. Inilah awal mulanya tragedi berdarah terjadi.

Beberapa oknum mulai ma­suk ke lapangan, diikuti supor­ter lain hingga suasana di Sta­dion Kanjuruhan berubah mencekam. Seketika kerusuhan terjadi dan lemparan gas air mata menyebar memenuhi stadion.

Saat itulah, sejumlah supor­ter berlarian menuju pintu keluar, namun terjebak dalam kondisi ruang yang penuh dan sesak. Termasuk Hikmah yang jadi korban insiden maut di Stadion Kanjuruhan.

Hikmah yang awalnya pergi sukacita bersama rombongan teman-temannya, justru pu­lang ke rumah diantar mobil jenazah. Tubuh Hikmah sudah terbujur kaku dan penuh luka darah.

Hikmah meninggal dunia. Kabar itu seketika membuat keluarganya terpukul.

Baca Juga  Puasa Jangan Dijadikan Alasan, PNS Bogor Dilarang Malas-malasan

Nurlela, kakak korban, al­marhumah berangkat ke Ma­lang bersama 14 teman-te­mannya.

”Mereka rombongan meng­gunakan sepeda motor. Sudah senang banget bisa nonton Arema,” kata Nurlela.

Nurlela mengaku adiknya tersebut humoris. Dan saat berangkat ke Malang, dalam kondisi libur kerja. Korban berangkat bersama Abdul Muqit, temannya, warga Wi­rowongso Jenggawah.

Muqit mengaku sempat hi­lang kontak dengan korban. Karena korban memiliki tiket, sementara Muqit tidak.

”Saya di luar stadion karena belum punya tiket. Tapi korban sudah di dalam stadion,” kata Muqit.

Saat mencari korban itulah, Muqit bertemu temannya yang lain dan memberi kabar bahwa korban ditemukan di gedung namun sudah dalam keadaan tidak bernyawa.

”Korban posisi dalam gedung stadion dan sudah ditutupi kain putih,” terangnya.

Apa yang dialami Hikmah juga dialami ratusan suporter Arema lainnya yang juga ber­nasib sama. Tewas terinjak-injak, sesak napas di Stadion Kanjuruhan usai kerusuhan maut terjadi.

Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo menyatakan jumlah korban meninggal dunia tragedi Stadion Kanjuru­han, Kabupaten Malang, usai pertandingan Arema FC me­lawan Persebaya Surabaya, sebanyak 125 orang.

Listyo mengatakan, sebelum dilakukan pembaruan data, jumlah korban meninggal dunia disebutkan berbagai versi. Namun, setelah proses verifikasi, diketahui ada data ganda.

”Terverifikasi jumlahnya dari awal sebelumnya, saat ini data terakhir hasil peng­ecekan jumlahnya 125 karena ada yang tercatat ganda,” kata Listyo.

Listyo mengaku saat ini pi­haknya tengah melakukan pendalaman lebih lanjut ter­hadap kejadian yang mem­buat ratusan orang meninggal dunia tersebut. Pihaknya akan melakukan investigasi secara tuntas peristiwa itu.

Baca Juga  Belajar Bareng Profesor sejak Usia Delapan Tahun

Ia menyebut saat ini pihak kepolisian masih melakukan pengumpulan data di Tem­pat Kejadian Perkara (TKP) di Stadion Kanjuruhan. Nanti hasil dari pengumpu­lan data dan perkembangan tersebut disampaikan ke­pada publik.

”Kami sedang melakukan pengumpulan data di TKP untuk mengetahui secara lengkap dan perkembangan yang ada akan kita sampaikan,” ujar Listyo Sigit Prabowo.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) me­minta Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melakukan investigasi terkait tragedi ke­ricuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur.

“Kepada kapolri, saya min­ta melakukan investigasi dan mengusut tuntas kasus ini,” kata Jokowi dalam konferen­si pers, Minggu (2/10).

Jokowi juga meminta Men­teri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, dan ketua umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) untuk mela­kukan evaluasi menyeluruh terkait pelaksanaan pertan­dingan sepak bola.

“Saya juga telah perintahkan kepada menteri pemuda dan olahraga, kapolri, dan ketua umum PSSI untuk melakukan evaluasi menyeluruh tentang pelaksanaan pertandingan sepak bola dan juga prosedur pengamanan penyelenggara­annya,” tegas Jokowi.

Karena itu, Jokowi memerin­tahkan pertandingan Liga 1 untuk sementara dihentikan. Penghentian itu dilakukan sampai proses evakuasi. Se­mentara itu, korban mening­gal pun hingga kini masih dalam proses identifikasi.

Gubernur Jawa Timur Kho­fifah Indar Parawansa kepada awak media menyebut terda­pat sekitar 18 korban mening­gal yang masih belum dike­tahui identitasnya.

“Dari raut wajahnya, para korban diperkirakan masih berusia remaja,” katanya.

Baca Juga  Polisi Kantongi Gambaran Pelaku Geng Motor Penyerang Warga Bogor

Di tempat lain, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupa­ten Malang Wiyanto Wijoyo menyebut ada 25 orang me­ninggal dunia yang belum ditemukan identitasnya. Kini petugas sedang mendata ciri-ciri fisik dari para jenazah, termasuk mendokumentasi wajah para korban.

”Selanjutnya akan ditunjuk­kan ke masyarakat yang ba­nyak mencari sanak anggota keluarga mereka,” ujarnya.

Sekretaris Jenderal PSSI Yunus Nusi mengatakan, se­harusnya banyak pihak yang bisa menahan diri ketika ter­jadi kerusuhan di Stadion Kanjuruhan agar jatuhnya korban jiwa dapat dihindari.

“Kami menyesalkan keja­dian kemarin malam. Sebe­narnya banyak yang harus menahan diri,” kata Yunus dalam konferensi pers di Sta­dion Madya Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (2/10).

Meski demikian, pria yang pernah menjadi ketua Asprov PSSI Kalimantan Timur itu tidak merinci siapa yang se­benarnya mesti menahan diri.

Soal tindakan aparat terhadap suporter, misalnya, Yunus yakin hal itu diambil dengan pertimbangan tertentu. Peng­gunaan gas air mata diang­gapnya juga sudah diper­timbangkan matang-matang, meski sejatinya FIFA sudah melarangnya.

Pasal 19 (b) Regulasi Kese­lamatan dan Keamanan FIFA menyatakan bahwa, “tidak boleh membawa atau menggunakan senjata api atau gas pengendali kera­maian” di lapangan pertan­dingan.

“Kejadian itu begitu cepat. Tentu pihak keamanan sudah memikirkan dan mengkaji dengan baik. Kita memang melihat pasca-pertandingan penonton turun ke lapangan, dan tentu pihak keamanan ambil langkah-langkah anti­sipatif,” kata Yunus.

PSSI, lanjutnya, sudah mem­bentuk tim investigasi peris­tiwa di Stadion Kanjuruhan yang dipimpin Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan. (jp/ feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *