Polisi Dalami Kasus Penipuan Investasi Online Shop yang Menimpa Korban Mahasiswa di Bogor

by -
Kasatreskrim Polresta Bogor Kota Kompol Dhoni Erwanto. (Foto:Ryan/Metropolitan)

METROPOLITAN.id – Kasus dugaan penipuan investasi online shop yang menimpa para mahasiswa di Bogor mengemuka. Para mahasiswa disebut sudah melaporkan hal ini kepada Polresta Bogor Kota.

Hal itu dibenarkan oleh Kasat Reskrim Polres Bogor Kota Kompol Dhoni Erwanto.

Menurut Dhoni, pihaknya melakukan proses penyelidikan dan pemenuhan bukti dan saksi dari laporan para korban yang masih mahasiswa itu.

“Betul (sudah masuk laporan,red). (Sekarang) sedang lakukan proses penyelidikan dan pemenuhan bukti dan saksi,” kata Dhoni saat dikonfirmasi Metropolitan.id, Kamis (6/10).

Sebelumnya, modus penipuan dewasa ini makin marak terjadi. Teranyar, remaja hingga mahasiswa di Kota Bogor diduga menjadi korban transaksi fiktif online shop.

Modusnya, pelaku mengajak korban untuk berinvestasi di online shop miliknya dengan cara melakukan pinjaman online, agar ratingnya naik. Dengan iming-iming keuntungan 10 persen dari nilai transaksi.

Awalnya para korban mendapatkan keuntungan sesuai kesepakatan dengan pelaku inisal SA. Selang beberapa bulan berjalan, SA sulit dihubungi dan dengan berbagai alasan tidak bisa membayarkan uang untuk cicilan pinjaman online yang diajukan para korban. Alhasil, kini para korban dikejar-kejar penagih hutang pinjaman online.

Kasus ini pun sudah dilaporkan salah satu korban, OC, ke Polresta Bogor Kota dengan nomor : LP/B/1122/X/2022/SPKT/POLRESTA BOGOR KOTA/POLDA JAWA BARAT per 5 Oktober 2022.

Baca Juga  Pemkot Bogor Mulai Sertifikasi Lahan Hibah Eks BLBI untuk Perkantoran Baru

Ditemui Metropolitan.id, salah satu korban lainnya, IR, menceritakan bahwa dirinya mengenal korban lantaran dikenalkan oleh teman lainnya di kedai kopi.

Saat itu, pelaku memaparkan investasi mudah yakni dengan meminjam ke pinjaman online untuk kemudian uang tersebut diberikan kepada pelaku sebagai bentuk investasi online shop.

Selain awal diberikan persentase dari nilai pinjaman yang diberikan, per bulannya sempat SA berjanji akan memberikan 10 persen dari nilai pinjaman.

“Awalnya berjalan beberapa bulan dan pembayaran SA lancar tidak ada kendala. Bahkan bayarnya dahulu tepat waktu. Untuk yang saya alami, awalnya saya diarahkan meminjam Rp3 juta kemudian disetorkan ke SA Rp2,7 juta dan dapat cuan awal Rp300 ribu. Besarnya keuntungan awal untuk memberikan uang investasi kepada SA 10 persen,” kata IR, Rabu (5/10) malam.

Kemudian, SA mengarahkan korban berbelanja di toko online yang diakui milik dirinya, alasannya agar rating toko miliknya naik.

“Untuk yang saya alami sih, setelah jalan beberapa bulan dan nilai uang dari pinjaman online yang saya serahkan untuk investasi kepada SA semakin besar, disitulah SA banyak berkelit dan tidak membayar kepada saya. Dari mulai sistem eror, saldo limit dan lain sebagainya,” tandasnya.

Baca Juga  Warga Ngeluh Tinggal Berdampingan dengan Tempat Sampah

“SA juga mengarahkan saya dan beberapa teman saya yang menjadi korban, untuk mentransfer dana yang kami pinjam dari pinjaman online ke virtual account akun salah satu e-commerce dengan atas nama adiknya SA,” imbuh IR.

Alhasil, lantaran para korban tidak menerima uang dari SA untuk membuat pinjaman online, para korban ‘dikejar-kejar’ penagih pinjaman online.

Bahkan sebagian korban ada yang membayar uang pinjaman online dengan uang pribadinya agar tidak dikejar debt collector.

“Kami juga sempat mendatangi rumah SA dan didampingi beberapa orang tua korban. Namun SA malah ‘playing victim’ lah. Setelah beberapa kali didatangi, akhirnya SA menyatakan bersedia mengganti uang yang para korban pinjaman dengan jangka waktu 29 September 2022. Namun hingga lewat 29 September 2022, korban enggan membayar, bahkan karena SA tidak sesuai dengan janjinya, salah satu teman kami melaporkan hal ini ke polisi,” jelasnya.

IR menjelaskan, SA mengaku online shop-nya menjual casing ponsel dan barang-barang elektronik.

Di tempat yang sama, salah satu orang tua korban, WT menuturkan bahwa para korban diiming-imingi 10 persen dari nilai transaksi oleh SA.

Baca Juga  Mantan Dirut Pertamina Jadi Tersangka

Para anak muda yang sebagian mahasiswa dan mahasiswi Kota Bogor itu tergiur. Mereka lantas melakukan pinjaman online dan mentransfer uang senilai yang diminta SA juga bertransaksi di online shop yang diakui milik SA.

“Tetapi tidak sesuai janji dari SA, anak saya jadi korban, hingga tiga bulan ini pinjaman anak saya tidak dibayar oleh pelaku dan anak saya dikejar oleh debt collector. Selain anak saya, dia juga mengajak teman anak saya. Kalau anak saya dan teman-teman yang jadi korban ada 7 orang, tetapi dari informasi yang saya kumpulkan, total ada puluhan mahasiswa dan mahasiswi juga yang senasib dengan anak saya,” paparnya.

WT menegaskan, beberapa orang tua korban sudah mendatangi kediaman pelaku, pelaku berjanji akan melunasi utang anak-anak.

Tetapi rupanya, klaim dia, pelaku balik mengancam anak-anak tersebut tidak akan melunasi utang kalau mereka melapor ke orang tua, mengumpulkan massa atau lapor polisi.

“Tidak ada niat baik dari pelaku. Maka dari itu kemungkinan kami akan tempuh jalur hukum. Karena salah satu korban juga sudah melaporkan hal ini ke kepolisian,” pungkasnya. (ryn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *