Minggu, 5 Februari 2023

Kuat Relawan

- Sabtu, 23 Maret 2019 | 16:00 WIB

VIVA – Pekik teriakan puluhan orang membahana di pintu masuk sebuah hotel berbintang lima di bilangan Jakarta Pusat. Puluhan orang yang didominasi oleh anak muda ini terpecah menjadi dua kubu. Mereka terlihat beradu nyanyian. Keduanya beradu suara menjadi yang paling lantang, sebagai simbol dukungan. Iringan tepuk tangan dan sorak-sorai pun menggema. "Jokowi! Jokowi! Jokowi!" teriak mereka. Teriakan tersebut dibalas oleh kubu lainnya. "Prabowo...Prabowo..." sorak para pendukung. Mereka adalah relawan dan pendukung dari pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01, Joko Widodo - Ma'ruf Amin serta nomor urut 02, Prabowo Subianto - Sandiaga Uno. Keterlibatan relawan dalam pemilihan presiden dan wakil presiden mulai mencuri perhatian. Mereka bekerja suka rela, selama 24 jam demi memenangkan pasangan yang mereka dukung. Kemunculan relawan disebut sebagai perkembangan demokrasi ke arah yang lebih positif. Sebab, kehadiran mereka mengindikasikan munculnya partisipasi politik masyarakat di luar dominasi partai politik. Adalah era pemilihan presiden secara langsung yang memunculkan ruang untuk publik memiliki idola baru untuk dijagokan sebagai Presiden RI. Kemunculan relawan juga diindikasikan sebagai naiknya tingkat melek politik di masyarakat. Ketua Umum Projo, salah satu kelompok relawan pendukung Jokowi, Budi Ari Setiadi, mengatakan, organisasi relawannya berdiri sejak awal 2013. Alasannya memilih Jokowi karena berhasil membuat brandmark baru dalam peta perpolitikan nasional. Menurut dia, setidaknya standar era kepemimpinan baru ini harus dimaknai secara baik, secara positif bahwa pemimpin yang lahir dari rakyat itu adalah pemimpin yang mau dan mampu menggerakkan perubahan. "Dan, selama 4,5 tahun periode pertama sudah bisa terlihat perubahan dan kerja nyata Jokowi," ujarnya kepada VIVA, Rabu, 20 Maret 2019. Budi menuturkan, saat ini Projo sedang mempersiapkan hampir 7.200 koordinator kecamatan untuk menyiapkan saksi di seluruh TPS yang jumlahnya mencapai 802 ribu di Indonesia. Sehingga, pada 17 April mendatang mereka menjadi salah satu organisasi yang memiliki hitungan angka pasti, rigit, dan lengkap. Ketua Umum Projo, Budi Ari Setiadi bersama Jokowi Untuk pendanaan Projo, Budi mengaku sejak awal prinsipnya adalah partisipatif, mandiri, dan gotong royong. "Kami tidak bergantung atau meminta dari salah satu sumber dana para pengusaha. Kami bergerak independen. Namun, tentu saja kami banyak menerima bantuan dari berbagai pihak tapi sifatnya adalah kerja sama saling menguntungkan bukan transaksional," ujarnya menegaskan. Jumlah anggota Projo saat ini sudah tersebar di 34 provinsi dan 517 kabupaten/kota, dengan berbagai macam profesi di antaranya dokter, insinyur, aktivis, pengusaha, ibu rumah tangga dan buruh. Berbeda dengan Projo, Santri Milenial atau disingkat Samil merupakan relawan yang baru berdiri menjelang Pemilihan Presiden 2019. Ketua Umum Samil, Fuad Al-Athar mengatakan, latar belakang terbentuknya Samil memang karena alasan politik. Menurut dia, organisasi relawan yang ia pimpin berada di garis yang sama dengan para kyai dan ulama yang cinta tehadap bangsa dan mendukung kebijakan yang dilakukan pemerintah. “Jadi, mengentalnya politik Islam kanan, maraknya hoaks, intoleransi dan percobaan untuk mendeligitimasi otoritas ulama di Indonesia menjadi pemicu pertama yang menyusun latar belakang SAMIL,” ujarnya kepada VIVA, Rabu, 20 Maret 2019. Ia menjelaskan, sebelum menjadi SAMIL Jokowin, komunitasnya adalah jejaring para santri yang sudah lama ada. Kemudian setelah Jokowi memilih  Kiyai Ma’ruf Amin sebagai cawapresnya, komunitas ini mulai melakukan konsolidasi darat dengan jaringan di daerah dan memutuskan untuk mendukung pasangan 01. “Kami mendaftarkan diri pada TKN dengan Nama SAMIL Jokowin. Kira-kira bulan Agustus 2018,” ujarnya menambahkan. Menurut Fuad, Samil didirikan oleh jaringan para santri yang memiliki pandangan kebangsaan yang bhinneka dan demokrasi yang moderat, kosmopolit dan meletakkan kemaslahatan, kesejahteraan sebagai agenda utamanya, jadi bukan hanya demokrasi yang asal bebas, liberal atau yang terputus dari nilai-nilai lokalnya. Relawan milenial Ia menyatakan, Samil berdiri secara mandiri dan tidak ada ada inisiasi dari timses Jokowi. “Bahwa kami sekarang jadi bagian dari timses Jokowi itu mekanisme administratif karena pandangan sama untuk memenangkan orang baik seperti Jokowi-Kyai Ma’ruf.” Tak mau kalah, di kubu paslon 02, Prabowo Subianto – Sandiaga Uno juga bertebaran kelompok relawan. Salah satunya adalah Roemah Djoeang. Sekretaris Roemah Djoeang, Tino Rahardian menjelaskan, awal kelahiran organisasi relawannya adalah pada saat Pilkada DKI Jakarta. Ia mengatakan, bahwa organisasinya bergerak secara mandiri dan mendapat amanah dari cagub dan cawagub Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, kala itu, untuk menjadi simpul pemenangan mereka. Untuk pilpres tahun ini, Tino mengaku diberi amanah lagi untuk memperluas jaringan relawan dari awalnya di Jakarta menjadi level nasional. Tujuannya untuk mendata lalu memperluas relawan di bawah bendera Roemah Djoeang. Cawapres Sandiaga Uno bersama relawan Roemah Djoeang Saat ini Tino sedang mengupayakan membentuk koordinator di 100 ribu dari total TPS di seluruh Indonesia. Ia juga berinisiatif mengelola relawan secara profesional. Banyak simpul-simpul profesional dan diberkati dengan kemajuan teknologi seperti media sosial. "Kami lebih bergerak bebas. Kami juga berjuang dengan cara kami. Kami mempunyai satu teknik yang kami yakini signifikan. Karena cara kami sudah terbukti dalam Pilkada DKI kemarin," ungkap Tino. "Jadi pendataan secara online. Dan, kami punya aplikasi berbasis web sendiri. Bisa menambah pertumbuhan relawan yang signifikan. Jadi relawan mendaftar mandiri. Cukup efektif. Kami terus menyempurnakan sistem kerja. Kami meyakini bisa cukup efektif untuk memenangkan Pilpres". Tino kembali menegaskan bahwa Roemah Djoeang bergerak secara mandiri. Ia tidak mengenal istilah ongkos pengganti sehingga berupaya betul mengembangkan spirit kerelawanan. "Dalam definisi kami, menyumbangkan sesuatu sesuai kemampuan. Entah itu sumbang uang ataupun doa." Garda Depan Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin, Garda Maharsi mengatakan, seperti Pilpres 2014, tahun ini memang diramaikan dengan banyaknya relawan yang terlibat. Ia melihat, kalau di TKN relawan merupakan komponen yang sangat penting. Sebab, kerja relawan itu tersinkron lewat kerja-kerja yang sifatnya teritorial. Artinya, pendekatannya teritorial maka sejauh bisa diakses sama partai, lewat struktur partai sampai bawah, dijalankan. Tapi di luar itu, relawan mengambil ruang yang paling luas. "Jadi kalau untuk urusan door to door itu banyak kami temui relawan berada di pusat-pusat keramaian masyarakat. Mereka jadi juru terang," kata Garda kepada VIVA Rabu, 21 Maret 2019. Sumber : Viva

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Nikmatnya Mie Ayam khas Jepang di Depok, Penasaran?

Minggu, 5 Februari 2023 | 09:18 WIB

Coba Yoga Vinyasa Yuk, Ini Tipsnya buat Pemula

Minggu, 5 Februari 2023 | 08:32 WIB
X