Sabtu, 28 Januari 2023

Tiga Kali Tertimpa Kayu Atap, Rumah Gubuk Aisyah di Tegalgundil Menanti Bantuan

- Minggu, 21 Februari 2021 | 19:33 WIB
Kondisi rumah bambu milik Siti Aisyah yang belum tersentuh bantuan pemerintah. (Fadil/Metropolitan)
Kondisi rumah bambu milik Siti Aisyah yang belum tersentuh bantuan pemerintah. (Fadil/Metropolitan)

Di tengah padatnya pemukiman di bantaran Sungai Ciharashas, berdiri sebuah gubuk milik Siti Aisyah (73). Di balik tembok anyaman bambu yang kian lapuk, Aisyah tinggal bersama dua orang cucu setelah ditinggal sang suami 12 tahun lalu. Sebuah potret pinggiran Kota Bogor yang belum tersentuh pemerataan pembangunan. Laporan : Fadil Novianto Gang sempit berukuran satu meter yang berada di RT 3/3 Kelurahan Tegalgundil, Kecamatan Bogor Utara, jadi pintu masuk untuk melihat salah satu sudut Kota Bogor yang belum tersentuh pemerataan pembangunan itu. Kontras dengan pesatnya pembangunan di Kota Bogor. Setiap hari, Aisyah hanya bisa meratapi tempat tinggalnya yang semakin tergerus oleh waktu, sama seperti dirinya. Badannya yang sudah membungkuk, menggambarkan usianya yang sudah menginjak masa senja. Rumahnya yang rapuh, menggambarkan kondisi nyata bahwa tidak pernah tersentuh tangan-tangan pekerja yang memperbaiki rumah. Kepada Metropolitan.id, Aisyah bercerita kalau ia tinggal seorang diri semenjak ditinggal sang suami 12 tahun silam.
-
Kondisi rumah Siti Aisyah yang belum tersentuh bantuan pemerintah. (Fadil/Metropolitan) Semenjak saat itu, ia pun tidak memiliki lagi penghasilan yang mencukupi untuk melakukan perbaikan rumah. Karena ia sendiri sudah tidak memiliki kekuatan untuk bekerja. Jangankan bekerja, menimba air dari sumur untuk mandi saja, ia mengaku sudah kewalahan. "Punggung ini sudah sakit, karena sudah tiga kali jatoh disini (di rumah, red)," katanya sambil memegang punggungnya dibagian yang ia rasakan sakit. Aisyah mengaku sudah menempati rumah yang beralaskan semen dan beratapkan seng ini sejak 1975. Saat itu, ia bersama suaminya membangun rumah tersebut pasca menikah. Dari balik bilik bambu itu, ia sudah membesarkan 11 orang anak. Hanya saja, enam diantaranya sudah meninggal dunia. Lalu lima orang anaknya lagi, kini sudah menikah dan hanya menyisakan ia dan kenangan masa mudanya. "Anak-anak mah udah pada nikah. Tinggal umi aja sendiri disini sama incu (cucu, red), ya namanya anak kalau udah pada berkeluarga mah ya sudah lah. Nggak mau membebani," katanya lirih. *** Seketika, Aisyah menutup mukanya. Guratan ditangannya menunjukkan betapa kuatnya ia berjuang melawan kerasnya dunia. Ia terbayang masa-masa sulit sepeninggal suaminya. Ia harus berjibaku melawan alam dan melindungi rumahnya di waktu yang bersamaan. "Kalau hujan ini semua bocor. Banjir semua. Bahkan itu kamar mandi udah mau rubuh dan harus ditopang pakai kayu," jelasnya sambil menunjuk atap rumahnya yang bolong. Belum lagi saat angin kencang menerpa rumahnya. Bak daun diujung dahan, kayu penopang atap rumahnya sudah terlalu rapuh. Ia sendiri mengaku sudah tiga kali tertimpa kayu-kayu yang berada di langit-langit rumahnya. "Umi sudah tiga kali ketimpa itu kayu-kayu. Sekarang diganti sama awi (bambu, red) soalnya yang dulu udah keropos semua," terangnya. Ia mengaku selalu mengajukan bantuan ke pemerintah untuk merenovasi rumahnya. Hanya saja dari tahun ke tahun tak pernah ada realisasi dari pengajuannya itu. "Sudah hampir tiap tahun disurvey, disamperin tapi nggak pernah ada kelanjutannya," imbuhnya. *** Terpisah, Ketua RT 03, Fahrozi mengaku sudah membantu Aisyah untuk mengajukan bantuan ke pihak kelurahan. Berdasarkan informasi terakhir yang ia terima, tahun ini renovasi rumah akan segera dilakukan. "Mudah-mudahan bulan Maret sudah bisa direnovasi. Karena tahun kemarin sudah ada tanda tangan sama pihak kelurahan," jelasnya. Lebih lanjut, Fahrozi mengungkapkan kendala belum direvitalisasinya rumah Aisyah. Menurutnya, hal itu terkendala atas hak tanah yang ternyata bukan atas nama Aisyah, tetapi atas nama orang lain. Namun, tahun lalu, Aisyah sudah diwakafkan tanah oleh pemilik tanah seluas 25 meter persegi. Sehingga pengajuan bisa diterima oleh pihak kelurahan. "Jadi tahun ini ada dua rumah yang akan direnovasi, salah satunya milik bu Aisyah, karena sudah diwakafkan tanah," ungkapnya. Kondisi Aisyah pun mengundang simpati dari warga sekitar. Meski Aisyah sudah terdaftar didalam program keluarga harapan (PKH). Namun tetap saja, bantuan sembako selalu disalurkan oleh warga kepada salah satu sepuh di Kelurahan Tegalgundil ini. Fahrozi pun berharap, kedepannya rumah Aisyah bisa segera direnovasi dan warga juga tetap bisa membantu Aisyah. "Pengennya sih segera diperbaiki dan semangat warga untuk saling menolong tetap terjaga. Ketika dikonfirmasi, Camat Bogor Utara, Marse Hendra Saputra, mengaku kaget mendengar ada warganya yang masih belum tersentuh bantuan dari program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu). Ia mengaku akan segera mengecek ke pihak kelurahan apakah warganya tersebut sudah terdata atau belum. "Coba saya konfirmasi ke kelurahan ya, kalau pun belum, coba kita usulkan melalui BSTT atau Rutilahu," pungkasnya. (dil/b/ryn)

Editor: Ryan Milan

Tags

Terkini

X