Minggu, 29 Januari 2023

Persembunyian Sumardi Belum Juga Terendus Kejari

- Sabtu, 8 Oktober 2022 | 15:02 WIB
Kejari Kabupaten Bogor saat melakukan penggeledahan di rumah tersangka kasus koruspi anggaran bencana, Sumardi, di Cibinong, belum lama ini.
Kejari Kabupaten Bogor saat melakukan penggeledahan di rumah tersangka kasus koruspi anggaran bencana, Sumardi, di Cibinong, belum lama ini.

METROPOLITAN.id - Persembunyian buron kasus korupsi dana bencana di Kabupaten Bogor, Sumardi, belum juga terendus Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Bogor. Hingga kini, Sekretaris non-aktif Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bogor itu masih bebas berkeliaran. Terbaru, Kejari Kabupaten Bogor menetapkan satu tersangka yang dianggap mengahalangi atau merintangi proses penyidikan kasus tersebut (obstruction of justice). "Pada Rabu 4 Oktober 2022, berdasarkan Surat Perintah Penyidikan Nomor: Print-05/M.2.18/Fd.2/10/2022 jo Surat Penetapan Tersangka nomor: TAP-986/M.2.18/Fd.2/10/2022 telah menetapkan DAHP selaku tersangka perkara obstruction of justice. Tersangka DAHP dengan sengaja mencegah, merintangi, atau menggagalkan secara langsung atau tidak langsung penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap tersangka atau terdakwa ataupun para saksi dalam perkara korupsi," ujar Kejari Kabupaten Bogor, Agustian Sunaryo dalam keterangan tertulis yang diterima, Jumat (7/10). DAHP juga dianggap dengan sengaja memberikan keterangan yang tidak benar dalam upaya pencairan dan penangkapan tersangka Sumardi yang telah ditetapkan dalam daftar pencaraian orang (DPO). Agustian membeberkan kronologi tindak pidana yang dilakuka DAHP. Menurutnya, DAHP mengetahui tersangka Sumardi merupakan DPO Kejari Kabupaten Bogor. Pada Jumat 27 Agustus 2022 DAHP bersama saksi Zulfikar bertolak ke Jakarta menggunakan pesawat Jet Air dari Bandara Kualanamu (Medan). Tujuannya ke Jakarta untuk membawa mobil Toyota Fortuner milik tersangka Sumardi. Selanjutnya pada Sabtu 28 Agustus 2022, tersangka DAHP dijemput oleh istri Sumardi di pool bus Damri menuju ke rumah tersangka S. Kemudian sekira pukul 07.00 WIB, saksi Dena (istri Sumardi) memberikan uang tunai sebesar Rp5 juta kepada DAHP untuk digunakan sebagai biaya akomodasi membawa mobil dari Bogor ke Medan sebesar Rp2 juta. Sedangkan sisanya sebesar Rp3 juta untuk diserahkan ke Sumardi. Selanjutnya dalam perjalanan menuju ke Medan melalui Jalan Tol Jambi-Palembang, DAHP dihubungi Sumardi via SMS dengan memberikan kode “208!”. Kode tersebut merupakan kode rest area untuk keduanya bertemu. "Saat di Rest Area KM 208, DAHP memberikan uang tunai sebesar Rp3 juta dari istri S. Lalu DAHP bersama tersangka S menuju ke daerah Kemuning Jambi karena S akan membeli kebun sawit sehingga DAHP mengarahkan ke daerah Kemuning," ungkapnya. Saat di daerah Kemuning, DAHP memberikan kartu ATM-nya untuk digunakan Sumardi selama berada di Sumatera. DAHP kemudian menyimpan mobil Sumardi di rumahnya dan dengan sengaja mengganti nomor polisi kendaraannya dari F1111M menjadi BK1755MP. Tuujuannya, agar mobil tersebut tidak diketahui sebagai milik Sumardi dan ia dapat leluasa menggunakan mobil tersebut. Selanjutnya pada 30 September 2022, DAHP menemui Sumardi di daerah Aek Kanopan, Sumatera Utara. Namun, DAHP dengan sengaja tidak melaporkan pertemuan dan keberadaan Sumardi kepada kejaksaan atau kepolisian setempat. "Sehingga sejak proses penetapan tersangka S, Kejari Kabupaten Bogor tidak dapat melakukan pemeriksaan terhadap tersangka S, karena yang bersangkutan secara sengaja telah disembunyikan oleh DAHP. DAHP juga membantu mengamankan aset milik tersangka S sehingga penyidik kesulitan untuk melakukan sita aset milik tersangka S," kata Sunaryo. Atas perbuatan tersebut, tersangka DAHP disangkakan melanggar Pasal 21 dan Pasal 22 UU No. 31 tahun 1999 sebagaimana yang telah diubah dengan UU No.22 tahun 2011 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. "Kami juga memberikan apresiasi dan terima kasih atas kerjasama dan supporting yang telah diberikan pihak Kepolisian Resort Bogor, dalam hal ini Satreskrim Polres Bogor dalam upaya pengungkapan perkara obstruciton of justice terhadap tersangka DAHP," tandasnya. Sebelumnya, Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Bogor menggeledah rumah tersangka kasus korupsi dana kebencanaan di Kabupaten Bogor Sumardi. Hasilnya, petugas mengamankan sejumlah aset dari rumah tersangka di Cibinong. Seksi Pidana Khusus Kejari Kabupaten Bogor Dodi Wiraatmaja mengatakan, aset yang disita di antaranya  kendaraan bermotor, beberapa sertifikat tanah, rumah, hingga uang tunai sebesar Rp129 juta. Saat ini, Sekretaris non-aktif Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bogor itu sendiri masih berstatus buron. “Hari ini kami menyita sejumlah aset milik tersangka Sumardi,  Rumahnya di Cibinong aja ada enam, tanah kavling milik tersangka selain di Kabupaten Bogor, juga ada di Cikarang, Kabupaten Bekasi. Kami melakukan penyitaan karena sudah mulai ada upaya untuk menyembunyikan, dimana enam sertifikat rumah sudah dibawa oleh tersangka Sumardi,” kata Dodi, Rabu (5/10). Tak hanya itu, Kejari juga mengamankan dan memeriksa salah satu Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara berinisial DAHP. ASN tersebut diduga ikut membantu pelarian tersangka Sumardi. Tersangka Sumardi merupakan mantan Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Saat itu, ia diduga telah merugikan keuangan negara sebesar Rp 1,7 milyar melalui korupsi penyalahgunaan anggaran belanja tak terduga (BTT) tahun anggaran 2017. Anggaran tersebut harusnya diperuntukkan kepada korban bencana alam di Kecamatan Tenjolaya, Jasinga dan Cisarua. (fin)

Editor: Arifin

Tags

Terkini

Polres Bogor Gandeng Brimob Gencarkan Patroli Malam

Minggu, 29 Januari 2023 | 13:21 WIB
X