Jumat, 3 Februari 2023

‘Resesi Seks’ Bikin Gaya Hidup Pasangan di Korea Berubah

- Rabu, 30 November 2022 | 16:47 WIB
ILUSTRASI.
ILUSTRASI.

METROPOLITAN.id - Di tengah ancaman resesi seks gaya hidup pasangan Korea Selatan berubah. Misalnya, Choi Jung-hee, seorang pekerja kantoran yang baru saja menikah, enggan memiliki anak. "Hidupku dan suamiku yang utama," cerita dia, kepada The Guardian, dikutip dari lenteratimes.com, Rabu 30 November 2022.  Ia mengaku sering mendengar ucapan betapa bahagianya dirinya saat memiliki anak. Namun niat Choi Jung-hee untuk tidak memiliki anak masih lebih tinggi, karena ia juga mengatakan bahwa beban membesarkan anak terlalu besar. "Kami menginginkan kehidupan yang menyenangkan bersama, dan sementara orang mengatakan memiliki anak dapat memberi kami kebahagiaan, itu juga berarti banyak waktu yang mungkin membuat kami merasa ingin menyerah," ujarnya. Perubahan Gaya Hidup Perubahan gaya hidup pasangan Korea Selatan juga terlihat dari data proporsi keluarga dengan satu anak. Totalnya melebihi empat puluh persen. Tidak hanya itu, jumlah pernikahan mencapai rekor terendah, turun menjadi 193.000 tahun lalu. "Di negara di mana separuh penduduknya sekarang percaya bahwa pernikahan bukanlah suatu keharusan. Beberapa, terutama wanita, memprioritaskan kebebasan pribadi dan dengan sengaja mengesampingkan pernikahan sama sekali." Meski begitu, budaya perempuan yang mengharapkan ibu rumah tangga penuh masih berlaku di Korea Selatan. Ini juga didorong oleh kesenjangan upah gender Korea Selatan, yang terparah di Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD). Selama 10 tahun berturut-turut, negara ini berada di peringkat terbawah dari Glass Ceiling Index dari The Economist, yang mengukur peluang terbaik dan terburuk bagi perempuan untuk mendapatkan perlakuan setara di tempat kerja. Jumlah Bayi Lahir Menurut data populasi Statistik Korea pada 23 November, jumlah bayi baru lahir pada kuartal ketiga (Juli-September) adalah 64.085, penurunan tahun-ke-tahun sebesar 3,7%, atau 2.466. Ini adalah level terendah sejak statistik disusun pada tahun 1981. Dari Januari hingga September, 192.223 bayi lahir, turun 15.582 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (202.805). Ini adalah pertama kalinya jumlah bayi baru lahir turun di bawah 200.000 sejak statistik disimpan. "Jumlah bayi yang lahir telah menurun seiring dengan penurunan populasi wanita dan jumlah pernikahan yang terus menurun," kata Roh Hyung-joon, kepala divisi tren populasi di Statistics Korea. "Selain itu, angka kelahiran menurun seiring bertambahnya usia melahirkan dan masa subur dipersingkat," tuntasnya. (lenteratimes.com)

Editor: Ryan Milan

Tags

Terkini

Formula E masih Punya Utang Rp90,7 Miliar

Kamis, 2 Februari 2023 | 15:00 WIB

Ingin Buah Hati Aktif dan Ceria, Yuk Simak Tips Ini

Kamis, 2 Februari 2023 | 12:18 WIB
X