Rabu, 8 Februari 2023

SBY Seret Pengacara Setnov ke Polisi

- Rabu, 7 Februari 2018 | 09:04 WIB

-

METROPOLITAN - Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mendatangi Bareskrim Mabes Polri. SBY melaporkan pengacara Setya Novanto, Firman Wijaya, terkait pencemaran nama baik dalam kasus korupsi KTP-el. SBY yang datang sekitar pukul 17:10 WIB ke Bareskrim Polri, gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jalan Medan Merdeka Timur, membuat laporan selama 30 menit. Laporan SBY langsung diterima Kabareskrim Komjen Ari Dono Sukmanto.

Laporan SBY teregister dengan No: LP/187/II/2018/Bareskrim/Tanggal 6 Februari 2018. Pasal yang dilaporkan SBY atas Firman ialah Pasal 310 dan Pasal 311 KUHP tentang fitnah dan pencemaran nama baik.

Ketua Umum DPP Partai Demokrat SBY merasa terpojok dengan pernyataan pengacara Setya Novanto, Firman Wijaya. SBY menilai pernyataan Firman yang membuat opini dirinya terlibat dalam kasus korupsi KTP-el sebagai fitnah dan pencemaran nama baik.

Apalagi nama Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas juga muncul dalam buku catatan Setya Novanto membuat SBY berang. SBY mengatakan tudingan yang diarahkan kepadanya saat ini mirip tudingan mantan Ketua KPK Antasari Azhar jelang pilkada DKI Jakarta lalu. Saat itu Antasari menuding SBY terlibat dalam rekayasa kasusnya. Kini tudingan dirinya terlibat korupsi KTP-el dilakukan di tengah Partai Demokrat menghadapi pilkada serentak 2018 dan pemilu 2019.

“Para kader masih ingat ketika dulu dilaksanakan pemilihan gubernur DKI Jakarta sama situasi yang kita hadapi? Pemimpin partai waktu itu mengalami satu rangkaian fitnah dan serangan politik yang keterlaluan. Jauh dari akhlak politik yang baik,” katanya di hadapan kader di kantor DPP Partai Demokrat, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Selasa (6/2/2018).

Menurut Presiden ke-6 RI itu, tudingan yang dilancarkan Antasari memengaruhi perolehan jagoan Partai Demokrat kala itu yakni Agus Harimurti Yudhoyono yang merupakan anak dari SBY kalah. “Jelang pemungutan suara pilkada Jakarta ada pernyataan dari saudara Antasari yang sangat tendensius dan akhirnya merugikan perjuangan politik, waktu itu calon yang kita usung kalah telak,” ujarnya.

Sementara pengacara Setya Novanto, Firman Wijaya, mengatakan bahwa apa yang disampaikannya adalah bagian proses persidangan. Karena itulah dia menanggapi santai langkah Ketua Umum DPP Partai Demokrat SBY yang melaporkannya ke Bareskrim Polri atas tuduhan penggiringan opini dalam persidangan KTP-el. Seharusnya, lanjut Firman, SBY bisa menghormati proses persidangan. Sebab, prosesnya terbuka untuk umum dan berguna demi kepentingan pembuktian. "Ini kan proses tindak pidana korupsi. Seharusnya dapat dihormati semua pihak, jangan diintervensi, jangan diintimidasi. Semuanya kan terbuka di persidangan, tak ada yang ditutupi. Ada keterbukaan dalam pembuktian," kata Firman saat dihubungi wartawan, Selasa (6/2). Dosen Universitas Krinadwipayana itu pun mengaku bingung dengan reaksi SBY terhadap fakta yang muncul di persidangan. Apalagi sampai dikait-kaitkan dengan penggiringan opini. Padahal, kata Firman, pertanyaan dirinya ke saksi mantan Wakil Ketua Banggar dari Fraksi Demokrat, Mirwan Amir, dinilainya wajar untuk mencari keadilan yang subtansial pada kasus KTP-el. "Saya juga bingug kenapa saya dikait-kaitkan dengan presiden. Dikait-kaitkan dengan kekuatan besar segala. Kan proses pembuktian tindak pidana korupsi ini," kata Firman.

Sebelumnya, Firman Wijaya telah mengungkap fakta persidangan dari keterangan saksi telah menyebutkan siapa sebenarnya aktor besar di balik proyek pengadaan KTP-el. Berdasarkan keterangan saksi, menurut Firman, proyek KTP-el dikuasai pemenang pemilu pada 2009, yakni Partai Demokrat dan SBY. Adapun saksi yang dimaksud Firman adalah mantan politikus Partai Demokrat, Mirwan Amir.

(de/feb/run)

Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Sopir Angkot Racik Ganja Sintetis lewat Video Call

Rabu, 8 Februari 2023 | 10:08 WIB

Plaza Bogor Dibongkar usai Lebaran, Pedagang Girang

Kamis, 2 Februari 2023 | 12:14 WIB

Tiga Bocil Puncak Jadi Korban Pedofil

Rabu, 1 Februari 2023 | 10:02 WIB
X