Minggu, 5 Februari 2023

Bisa Kuliahkan Dua Anak dan Buka Peluang Kerja

- Jumat, 1 November 2019 | 09:26 WIB
SUKSES: Suryati saat membuat olahan kerupuk yang hendak dijual di perbatasan Indonesia- Singapura
SUKSES: Suryati saat membuat olahan kerupuk yang hendak dijual di perbatasan Indonesia- Singapura

METROPOLITAN - Hidup di perbatasan Indonesia tidak sesulit yang dibayangkan. Anggapan perbatasan yang jauh tertinggal dari segi apapun kini terpatahkan setelah Pemerintah memprioritaskan pembangunan dimulai dari wilayah perbatasan atau terluar. Kini wilayah perbatasan Indonesia seperti di Karimunbesar, Kabupaten Tanjung Balai Karimun (TBK), Provinsi Kepri sudah memiliki infrastruktur ketenagalistrikan yang menjadi pondasi dasar perekonomian. TBK sendiri berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia. Hal itu tentu dimanfaatkan oleh masyarakat Pulau Buru, Kabupaten TBK. Seperti Suryati, wanita berusia 43 tahun ini kini berhasil menyekolahkan dua anak perempuannya hingga jenjang S1 di universitas ternama. Suryati berhasil memanfaatkan listrik PLN untuk menambah pundi-pundi keuntungannya dari berjualan kerupuk khas TBK, yaitu kerupuk udang dan ikan. "Saya sejak 2012 usaha kerupuk udang dan ikan," kata Suryati. Usaha pembuatan kerupuk ini, kata Suryati sangat bergantung dengan listrik terutama pada saat proses pendinginan bahan baku setelah dikukus. Sejak 2012, Suryati mengaku di tempat tinggalnya listrik hanya menyala selama 12 jam mulai dari sore hari hingga pertengahan malam sehingga waktu produksi sangat terbatas. Sejak 2014, wilayah tinggalnya kini sudah menikmati listrik selama 24 jam dan bisa memproduksi kerupuk udang dan ikan kapan saja. "Kalau dulu kalau api (listrik) nyala mana cukup, kalau sekarang 24 jam dapat pengaruh besar karena bisa kerjakan kapan saja. Kalau dulu (kerupuk) kerasnya nunggu dua hari karena lampu nyalanya terbatas," jelas dia. Dia menceritakan, pasokan listrik PLN yang sudah melayani selama 24 jam nonstop memberikan dampak besar terhadap bisnisnya. Dia mengaku mampu mengumpulkan keuntungan sebesar Rp 2 juta setiap bulannya hanya dari usaha kerupuknya. Dirinya juga memiliki usaha lain seperti warung jajanan. "Omzet bersih Rp 2 juta per bulan. Saya usaha tidak kerupuk saja, dagang udang, warung kecil-kecilan, bikin tekur asin tapi sudah berhenti," jelasnya. Kerupuk hasil produksinya kini dijual ke beberapa wilayah di Kepri seperti TBK, Pulau Buru, Tanjung Batu, dan sesekali mendapat pesanan dari Singapura. Dengan listrik yang menyala selama 24 jam nonstop, Suryati mengaku kini bisa menyekolahkan kedua putrinya hingga bangku kuliah. Anak pertamanya kini sudah menjadi sarjana hukum dan satunya masih kuliah mengambil jurusan Ilmu Pemerintahan di UMRAH, Tanjung Pinang, Kepri. "Dua anak saya kuliah, satu sudah lulus dan satu belum, satu ambil Ilmu Pemerintahan jurusan administrasi negara dan hukum. Dua duanya di UMRAH Tanjung Pinang," ungkapnya. (dtk/mam)

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Plaza Bogor Dibongkar usai Lebaran, Pedagang Girang

Kamis, 2 Februari 2023 | 12:14 WIB

Tiga Bocil Puncak Jadi Korban Pedofil

Rabu, 1 Februari 2023 | 10:02 WIB

9 Korban Wowon Cs Tewas, Terakhir Anak-Istri Dihabisi

Jumat, 20 Januari 2023 | 10:01 WIB
X