Rabu, 1 Februari 2023

Jokowi Ganti Ratusan Rumah Terdampak Longsor

- Rabu, 8 Januari 2020 | 10:44 WIB

METROPOLITAN – Meski sempat gagal mendarat di Sukajaya akibat cuaca ekstrem, Presiden Jokowi Selasa (7/1) kemarin meninjau lokasi longsor di Desa Harkat Jaya, Kecamatan Sukajaya. Daerah ini salah satu titik terisolasi akibat longsoran yang memutus akses jalan. Kunjungan Jokowi untuk melihat langsung pengerjaan pembukaan akses jalan. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu sebelumnya telah memerintahkan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono untuk membuka akses jalan ke Kecamatan Sukajaya. "Hujan lebat mengguyur Desa Harkat Jaya, salah satu desa di Sukajaya, Bogor yang terisolasi oleh longsor, saat saya berkunjung pagi ini," kata Jokowi. "Saya hendak melihat langsung pekerjaan pembukaan akses jalan yang tertimbun longsor dan penanganan warga terdampak bencana," sambungnya. Hujan deras tiba-tiba mengguyur Desa Harkat Jaya kala Jokowi melakukan peninjauan. Jokowi langsung meminta pelindung kepala. Sebuah tas selempang diberikan untuk menutup kepalanya dari air hujan. Pasukan pengamanan presiden (paspampres) memberikan jas hujan plastik berwarna hijau dengan payung berukuran kecil. Jas hujan plastik itu biasanya dijual di pinggir jalan dengan harga Rp10.000. Jokowi memerintahkan jajarannya melakukan relokasi warga dari lokasi tersebut. Setidaknya, ada 776 unit rumah yang mengalami kerusakan akibat bencana banjir dan longsor. "Untuk masyarakat yang terkena longsor, untuk mau direlokasi, dipindahkan ke kurang lebih 2 kilometer dari situ," kata dia. Dia menambahkan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akan membangun rumah sebagai hunian baru setelah proses relokasi. Hunian akan dibangun di lahan milik PT Perkebunan Nasional, yang jaraknya dua kilometer dari lokasi semula. "Tadi yang rumahnya terbawa longsor nanti dari Kementerian PU, lahannya tadi lurah dan camat menunjuk lahannya PT P. Kalau lahan PT P berati lebih mudah, pusat lagi," jelas dia. Jokowi sangat berharap warga korban bencana di Desa Sukajaya mau direlokasi. Proses relokasi, katanya, akan dipersiapkan Bupati Bogor, Ade Yasin. "Jadi selesai, akan langsung diselesaikan Kementerian PU untuk perumahannya," ucap dia. Ia juga menyebutkan terdapat sejumlah titik longsor di Kecamatan Sukajaya Bogor. Dia memastikan akan membuka akses jalan yang terisolasi akibat longsor. "Kemarin kami lihat dari helikopter sangat kelihatan sekali, yang longsor itu bukan hanya puluhan, tapi ratusan. Ini baru pada tahap diselesaikan, dibersihkan, terutama yang terisolir," ungkkapnya. Sementara itu, Penyelidik Bumi Badan Geologi Bandung Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM, Yunara Dasatriana menjelaskan, secara umum pihaknya masih belum bisa memberikan informasi dan keterangan secara detail, akan zona longsor yang terjadi di sejumlah kecamatan di Bogor Barat. Hal ini lantaran sulitnya akses masuk, ke sejumlah titik lokasi lonsor, yang pada saat itu masih tertimbun material longsor. Meski begitu, pihaknya sudah berhasil melakukan identifikasi kondisi sejumlah wilayah, berdasarkan geologinya masing-masing. Setidaknya mereka berhasil mempelajari kondisi permukaan tanah di sejumlah daerah. Seperti Sukaraksa, Cigudeg, Harkat Jaya, Pasir Kupa dan daerah Sinar Harapan. Berdasarkan hasil pantauannya, kondisi geologis di sejumlah wilayah yang disambanginya terbilang cukup kuat dan berbahaya. Pihaknya juga menemukan endapan batuan gunung api, yang berada diatas endapan sedimen berupa batu pasir dengan tanah lempung. Kondisi tersebut tentu sangat berpengaruh, terhadap longsoran yang terjadi. Ditambah lagi dengan curah hujan yang terjadi, saat peristiwa bencana berlangsung yang terbilang cukup ekstrim, dengan kondisi 301,6 milimeter untuk curah hujannya. “Jadi wajar bencana lonsor ini terjadi, mengingat kondisi geologi daerahnya yang seperti itu. Ditambah dengan curah hujan yang tinggi,” katanya saat dikonfirmasi Metropolitan. Kondisi batuan gunung apa yang ditemukan, juga dalam kondisi lapuk. Dengan warna abu terang sebagai tandanya. Bahkan, ia bersama tim juga menemukan batuan lempung yang labil, yang mengakibatkan mudahnya air masuk dan meresap kedalam tanah. Hal ini juga yang memicu kegemburan tanah, yang mengakibatkannya mudah bergerak. Yunara bersama tim, juga menjumpai beberapa karakter sungai yang kemiringan lapisannya mengarah ke sungai Cidurian. “Jadi ketika terjadi gangguan kestabilan lereng gunung, sangat logis tanah yang tergerus dan material longsor jatuh kerah sungai. Ini yang mengakibatkan tercampurnya lumpur dengan air sungai, yang menambah kekuatan aliran air sungai semakin besar, yang mengakibatkan bencana ini terjadi. Jadi aliran sungai saat itu, dipenuhi lumpur dan material longsoran. Jadi kekuatan arus air bertambah kuat,” bebernya. Secara umum, kondisi wilayah yang dijumpainya sangat labil dan rawan longsor, seperti longsor yang terjadi di Sinar Harapan. Secara kasat mata memang kondisi disana tidak terlalu terjal. Namun jika melihat pada puncak lereng, kondisinya hampir tegak lurus. “Disana itu memang kondisi bawah tidak begitu terjal, namun kondisi lereng diatasnya hampir tegak. Beberapa titik longsoran terjadi karna kondisi morfologinya memiliki potensi longsoran. Bahkan ada juga sejumlah titik yang itu longsoran lama,” ujarnya. Yunar mengatak, pada ekspedisi lapangannya pada esok hari ini (hari ini,red) pihaknya berencana akan melakukan pemantauan di tiga lokasi. Diantaranya Pasir Madang, Sukamulih dan Cileuksa. Ekspedisi besok rencananya akan fokus pada pengkajian morfologi (bentuk dan kondisi daerah,red) menggunakan areal mapping dengan drone, untuk mengetahui spot-spot longsoran. Pihaknya juga akan melakukan analisis terhadap megaskopis (jenis bebatuan dan kondisi tanah,red). (ogi/b/mer/mam)

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Tiga Bocil Puncak Jadi Korban Pedofil

Rabu, 1 Februari 2023 | 10:02 WIB

9 Korban Wowon Cs Tewas, Terakhir Anak-Istri Dihabisi

Jumat, 20 Januari 2023 | 10:01 WIB

Sebulan Dua Kali Tawuran di Bogor, 1 Tewas

Senin, 16 Januari 2023 | 10:01 WIB
X