Sabtu, 4 Februari 2023

Puluhan Demonstran Diangkut Polisi

- Kamis, 27 Februari 2020 | 08:29 WIB
DIBUBARKAN: Aparat kepolisian membubarkan puluhan warga Banyuwangi yang menggelar aksi unjuk rasa di pintu masuk tiga Kebun Raya Bogor, kemarin.
DIBUBARKAN: Aparat kepolisian membubarkan puluhan warga Banyuwangi yang menggelar aksi unjuk rasa di pintu masuk tiga Kebun Raya Bogor, kemarin.

METROPOLITAN - Puluhan warga Banyuwangi menggelar aksi unjuk rasa di depan pintu masuk tiga Kebun Raya Bogor, kemarin. Aksi itu mereka lakukan demi bertemu Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mengadukan nasib kampung halamannya yang terdampak pencemaran dari aktivitas pertambangan di Dusun Pancar, Desa Sumberarum, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi. Unjuk rasa yang dilakukan sekitar 20 warga Banyuwangi itu dihiasi rintik hujan. Mereka datang ke Kota Bogor dengan mengendarai sepeda ontel yang dikayuh dari kampung halamannya selama 12 hari. Meski tergolong nekat, aksi itu mereka lakukan demi mendapatkan kehidupan yang layak tanpa adanya gangguan dari aktivitas tambang. Namun siapa sangka, alih-alih ingin bertemu Jokowi dan mengadukan nasibnya, puluhan warga itu malah diangkut, dijemput dan dibubarkan paksa oleh petugas kepolisian. Penyebabnya, aksi itu dilakukan tanpa sepengetahuan aparat keamanan. Meski demikian, para pengunjuk rasa sempat menolak saat akan diamankan. Mereka memilih bertahan dan berorasi sambil duduk di depan pintu masuk tiga Kebun Raya Bogor. Sambil menjajarkan 12 sepeda ontel yang lengkap dengan sejumlah tulisan dan ungkapan protes dan aduan untuk Jokowi. Salah satu peserta aksi unjuk rasa, Kusnadi, mengatakan kedatangan pihaknya ke Kota Hujan tak lain untuk bertemu presiden, untuk berbicara langsung mengenai nasib ratusan warganya yang terdampak, aktivitas tambang di Gunung Salakan. “Tujuannya kami ingin ketemu presiden, terkait masalah pertambangan di desa kami,” kata warga Dusun Pancar tersebut. Menurutnya, aksi menuntut keadilan ini bukan kali pertama dilakukan pihaknya. Sebelumnya, pihaknya melakukan unjuk rasa ke pemerintahan di tingkat desa hingga provinsi di Banyuwangi. Namun tuntutan warga tidak pernah diendahkan pemerintah. “Sejak tahun 2014 silam, kami sudah berjuang seperti ini, namun semuanya sia-sia tak ada yang mendengar dan menghiraukan suara kami. Pokoknya saya bersama rekan-rekan akan tetap berdiam diri di Kota Bogor hingga berhasil bertemu dengan presiden,” ucap dia. “Aspirasi ini akan kami sampaikan langsung kepada pak presiden. Kita akan menunggu sampai ketemu. Kami datang dari jauh, rela meninggalkan keluarga, pekerjaan demi menyampaikan ini, jadi kami akan tetap menunggu,” ujarnya. Menanggapi hal itu, Kabagops Polresta Bogor Kota, Kompol Prasetyo Purbo, mengatakan aksi unjuk rasa ini dibubarkan karena tidak melalui pemberitahuan kepada pihak kepolisian. "Mereka tidak ada pemberitahuan kepada kami, sehingga kami beri waktu hingga dan bernegosiasi untuk segera menyelesaikan aksinya, setelah itu mereka kami bawa ke Polresta dengan tujuan kami berikan pelayanan kepada mereka, karena kondisi mereka sudah seperti itu 12 hari di sepeda dan badan basah kuyup," ujarnya. Menurutnya, evakuasi para pendemo tersebut ke Polresta Bogor Kota dilakukan untuk memberikan pelayanan kesehatan dan pemahaman terkait aksi unjuk rasa. Para pendemo dibawa ke Polresta Bogor Kota dengan menggunakan truk dan angkutan kota.(ogi/c/rez)

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Plaza Bogor Dibongkar usai Lebaran, Pedagang Girang

Kamis, 2 Februari 2023 | 12:14 WIB

Tiga Bocil Puncak Jadi Korban Pedofil

Rabu, 1 Februari 2023 | 10:02 WIB

9 Korban Wowon Cs Tewas, Terakhir Anak-Istri Dihabisi

Jumat, 20 Januari 2023 | 10:01 WIB
X