Sabtu, 4 Februari 2023

Pelajar Bogor Terhambat Ekonomi, Ketinggalan Pelajaran 5 Bulan

- Selasa, 25 Agustus 2020 | 11:29 WIB

Penerapan sistem Pembela­jaran Jarak Jauh (PJJ) atau belajar secara daring bukan hanya dikeluhkan warga pelajar bogor yang tinggal di wilayah pinggiran. Nyata­nya, seorang siswa SMP asal Kota Bogor merasakan hal serupa. IA adalah Hari Laksono. Siswa Kelas 9 SMPN 10 Kota Bogor itu sudah lima bulan tidak mengikuti kegiatan be­lajar secara daring akibat tidak memiliki handphone (hp) lantaran keterbatasan eko­nomi. Hari tak patah semangat. Ia berinisiatif menumpang belajar kepada salah satu temannya agar tak begitu jauh tertinggal pelajaran. ”Bapak sama ibu nggak punya hp, jadi saya num­pang ke rumah teman. Se­minggu dua kali, hanya untuk menanyakan tugas saja,” kata Hari saat ditemui di kediaman­nya di Kampung Buni Asih, Kelurahan Cipaku, Kecamatan Bogor Selatan, kemarin. Hari mengaku tidak mau membebani orang tuanya yang hanya berprofesi sebagai buruh harian lepas. Meski ia menga­kui bahwa lima bulan ini diri­nya harus tertinggal pelajaran. “Kalau dibilang sulit ya pasti kesulitan. Apalagi saat ini saya sedang mengikuti Ujian Tengah Semester (UTS). Kalau boleh jujur sih enakan sekolah langs­ung sih, bisa ketemu teman. Terus juga belajar langsung. Kalau begini sih repot sebe­narnya. Tapi mau bagaimana lagi,” ujar Hari. Kondisi Hari pun akhirnya sampai ke telinga Wali Kota Bogor Bima Arya saat sidak ke beberapa sekolah di Kota Bogor. Mendengar kondisi Hari yang tidak bisa mengikuti PJJ, Bima langsung menemui Hari dan keluarganya yang tinggal di Kampung Buni Asih, kemarin. Kedatangan Bima Arya dis­ambut orang tua Hari, Suyono dan Atikah. Kepada Bima, Suyono mengaku tidak memi­liki gawai atau hp untuk dirinya ataupun anaknya. Selama lima bulan, ia hanya bisa mem­bantu anaknya dengan tetap mengumpulkan tugas-tugas anaknya ke sekolah. ”Pas awal-awal kan diminta sama guru untuk masuk grup. Nah, saya bingung grup yang mana, orang hp saja nggak punya,” kata Suyono seraya menjelaskan tak hanya Hari anak sulungnya, Agung Pra­setyo yang merupakan siswa kelas X di SMK PUI juga men­galami nasib sama. Melihat kondisi keluarga Suyono dan Atikah, Bima Arya pun mengaku saat ini Pemkot Bogor tengah mencoba men­cari solusi agar anak-anak seperti Agung dan Hari bisa tetap bersekolah. Salah satu langkah yang akan diambil Pemkot Bogor adalah dengan mengubah sistem bantuan Jaga Asa, yang tadinya menyasar keluarga tidak mam­pu dengan memberi bantuan sembako akan menjadi ban­tuan gawai untuk para siswa tidak mampu. Sebab berdasarkan perhitung­an Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor, ada sekitar 30 per­sen siswa tidak mampu yang tidak memiliki gawai di Kota Bogor. ”Kita akan mobilisasi kepedulian warga untuk mem­bantu penyediaan hp. Jaga Asa yang tadinya untuk ortu asuh, kita akan konsentrasikan untuk sektor pendidikan,” kata Bima. (dil/c/rez/run)

Editor: admin metro

Tags

Terkini

Plaza Bogor Dibongkar usai Lebaran, Pedagang Girang

Kamis, 2 Februari 2023 | 12:14 WIB

Tiga Bocil Puncak Jadi Korban Pedofil

Rabu, 1 Februari 2023 | 10:02 WIB

9 Korban Wowon Cs Tewas, Terakhir Anak-Istri Dihabisi

Jumat, 20 Januari 2023 | 10:01 WIB
X