Jumat, 3 Februari 2023

Nilai Ekspor Indonesia Catat Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah

- Jumat, 17 September 2021 | 10:10 WIB

Neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2021 menunjukkan performa yang meningkat dibanding bulan lalu. Sesuai rilis Badan Pusat Statistik, Rabu (15/9), nilai perdagangan Indonesia pada periode Agustus 2021 tercatat mengalami surplus US$4,74 miliar, melanjutkan tren surplus sejak Mei 2020 atau surplus selama 16 bulan berturut-turut. Nilai surplus tersebut bahkan merupakan rekor tertinggi sejak Desember 2006 sebesar US$4,64 miliar. PERFORMA surplus yang impresif tersebut ditopang oleh peningkatan ekspor Indonesia yang terakselerasi pada Agustus 2021 dengan mencapai US$21,42 miliar, meningkat double digit sebesar 20,95% (mtm) atau 64,10% (yoy). Nilai ekspor tersebut sekaligus tercatat seba­gai rekor tertinggi baru bagi ekspor Indonesia, menembus rekor tertinggi sepanjang masa yang pernah terjadi sebelumnya pada Agustus 2011 yang sebesar US$18,60 miliar. “Pencapaian ini mengindikasikan pemulihan ekonomi Indone­sia yang terus berlanjut seja­lan dengan pemulihan per­mintaan global. Hal ini dit­unjukkan dengan terus me­ningkatnya volume ekspor dan harga komoditas andalan Indonesia seperti Batubara sebesar 11,04% (mtm) dan CPO sebesar 6,85% (mtm),” ujar Menteri Koordinator Bi­dang Perekonomian Airlang­ga Hartarto. Peningkatan ekspor Indone­sia juga mengkonfirmasi per­baikan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur In­donesia Agustus 2021 yang meningkat menjadi 43,7 dari sebelumnya berada di level 40,1 pada Juli 2021. Level PMI Indonesia juga lebih baik di­bandingkan dengan bebera­pa negara di ASEAN, seperti Myanmar (36,5), Vietnam (40,2), dan Malaysia (43,4). Peningkatan ekspor terbesar Indonesia pada Agustus 2021 terjadi pada komoditi lemak dan minyak hewan/nabati (HS 15) sebesar US$1.544,8 juta, bahan bakar mineral (HS 27) sebesar US$573,2 juta, dan bijih logam (HS 26) sebesar USD213,1 juta. Sementara itu, negara tujuan ekspor nonmi­gas yang mengalami pening­katan terbesar dibanding bulan sebelumnya diantara­nya Tiongkok (US$1.212,2 juta), India (US$759,1 juta), dan Jepang (US$453,2 juta). Sejalan dengan peningkatan ekspor, sisi impor Indonesia pada Agustus 2021 mencapai US$16,68 miliar, meningkat sebesar 10,35% (mtm) atau 55,26% (yoy). Mobilitas ma­syarakat yang mulai mening­kat seiring dengan pelong­garan PPKM menjadi indi­kasi penyebab peningkatan. “Kenaikan impor pada Agus­tus 2021 ditopang oleh pening­katan impor barang modal sebesar 34,56% (yoy) dan ba­han baku/penolong sebesar 59,59% (yoy) yang menunjuk­kan peningkatan kapasitas produksi industri di Indonesia serta geliat ekonomi Indone­sia yang terus pulih,” ungkap Menko Airlangga. Struktur impor Indonesia pada Agustus 2021 didomi­nasi oleh impor bahan baku/ penolong yang mencapai 74,20% dari total impor, ke­mudian di susul oleh barang modal mencapai 14,47%, dan barang konsumsi sebesar 11,33%. Struktur tersebut mengindikasikan perekono­mian Indonesia yang produk­tif melalui penciptaan nilai tambah yang lebih besar, baik untuk kebutuhan domestik maupun untuk diekspor kem­bali. Dorongan untuk Ekspor In­dustri Kecil Menengah (IKM) “Performa positif ekspor In­donesia tidak terlepas dari peran berbagai pihak terma­suk kontribusi para pelaku IKM yang mampu bertahan di tengah gejolak pandemi Covid-19,” ujar Menko Air­langga. Hal ini dibuktikan dari kenai­kan dua komoditas ekspor yang berbasis pada sektor IKM, yakni ekspor Kayu dan Barang dari Kayu (HS 44) yang mam­pu tumbuh tinggi 18,31% (yoy) dan Furnitur (HS 94) yang tumbuh mencapai 30,12% (yoy) selama periode Januari hingga Juli 2021. Kedua ko­moditas tersebut bahkan ter­masuk dalam 20 kontributor utama ekspor Indonesia se­panjang tahun 2021. Ekspor dari komoditi pada HS 44 mencapai USD2,55 miliar berada pada peringkat 12 dengan share sebesar 2,12% terhadap total ekspor dan HS 94 mencapai USD1,63 miliar berada pada peringkat 19 dengan share sebesar 1,36% terhadap total ekspor. Kontribusi ekspor HS 44 dan HS 94 yang notabene berba­sis pada IKM perlu diapresi­asi. Untuk menjaga keberla­njutan performa ekspor yang positif dari kedua komoditas tersebut, beberapa faktor kunci perlu terus dicermati diantaranya: (i) Ketersediaan kontainer yang memadai dan stabilitas biaya freight cost yang terjangkau, (ii) Kemu­dahan dalam proses pengu­rusan Sistem Verifikasi Lega­litas Kayu (SVLK), (iii) Terja­ganya stabilitas harga dan ketersediaan pasokan kayu ke industri, (iv) Kelancaran izin keimigrasian yang terin­tegrasi bagi inspektor buyer luar negeri, (v) Peningkatan kualitas produk dan keahlian SDM, (vi) Fasilitasi teknologi dan sarana prasarana pro­duksi, (vii) Peningkatan akses pasar melalui fasilitasi pame­ran dan promosi, dan (viii) Kemudahan akses pembi­ayaan untuk melakukan ekspansi. “Upaya mendorong ekspor komoditas IKM tidak hanya akan dilakukan pada kedua komoditas tersebut. Pemerin­tah bersama seluruh stakehol­ders terus berupaya menyusun berbagai program dan insen­tif yang relevan pada seluruh komoditas IKM berbasis eks­por. Dengan demikian, seluruh IKM yang bergerak di berbagai sektor dapat terus berkontri­busi dalam menopang ekspor Indonesia secara keseluruhan,” tutup Menko Airlangga. (dep1/ fsr/feb/run)

Editor: admin metro

Tags

Terkini

Plaza Bogor Dibongkar usai Lebaran, Pedagang Girang

Kamis, 2 Februari 2023 | 12:14 WIB

Tiga Bocil Puncak Jadi Korban Pedofil

Rabu, 1 Februari 2023 | 10:02 WIB

9 Korban Wowon Cs Tewas, Terakhir Anak-Istri Dihabisi

Jumat, 20 Januari 2023 | 10:01 WIB
X