Senin, 6 Februari 2023

Pandemi Hilangkan Tradisi Pawai Santri

- Jumat, 22 Oktober 2021 | 10:20 WIB

METROPOLITAN - Suara para santri yang se­dang mengaji, bersahut-sahutan. Lantunan ayat suci Alquran sudah terdengar bingar saat menginjakkan kaki di Pondok Pesan­tren (Ponpes) Riyadhul Huda. Ponpes modern milik almarhum Kiai Muhammad Yasien Moeqoddar itu sudah tersohor di Kecamatan Gunungputri. Kamis (21/10) siang, seluruh santri sudah ber­aktivitas normal. Ada yang menghafal ayat Al­quran, beberapa ada yang mengaji di masjid. Bahkan, ada pula yang sibuk membersihkan halaman pesantren. Menelusuri lebih dalam, ponpes yang sudah berusia 25 tahun itu memiliki sembilan kobong laki-laki dan lima untuk pe­rempuan. Setiap kobongnya diisi 30–35 orang. Ponpes yang berada di Kam­pung Babakan, Desa Ciangs­ana, itu juga memberi pendi­dikan umum kepada para santrinya. ”Anak-anak di sini akan mengenyam enam tahun se­kolah untuk menerima ijazah lulusan pesantren tersebut. Kita menyebutnya muadallah atau persamaan. Setara dengan sanawiyah dan aliyah,” tutur Ahmad Fadhlu Ar Robbani, putra sekaligus penerus almar­hum Kiai Muhammad. Berdiri di atas lahan seluas 7.000 meter persegi, Ponpes Riyadhul Huda sudah turun-temurun mencetak generasi islami. Saat ini, tercatat ada 400 santri yang mondok. Me­reka berasal dari berbagai daerah. ”Sebanyak 400 itu terdiri dari santri laki laki 200 orang dan santri perempuan 200 orang,” kata Ahmad. Berbeda dengan pesantren tradisional. Pesantren Riyad­hul Huda juga membuka mi­nat dan bakat tiap santri lewat kegiatan ekstrakurikuler. Setiap harinya, para santri sudah diajarkan disiplin, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Pukul 03:30 WIB, sebelum azan Subuh berkumandang, mereka sudah harus bangun untuk salat Tahajud. Sampai Subuh berjamaah dan dila­njutkan pelajaran lain. “Untuk pelajaran di kelas, kami mulai jam 07:00 WIB,” kata Ahmad. Meski seluruh aktivitas di ponpes sudah normal, ada yang belum bisa terwujud ka­rena terbentur pandemi. Ya­kni tradisi pawai santri untuk menyambut perayaan Hari Santri yang jatuh pada hari ini. Biasanya, sebelum dilanda pandemi Covid-19, anak-anak Pesantren Riyadhul Huda akan melakukan pawai obor bagi santri laki-laki, tepat di malam hari sebelum perayaan Hari Santri tiba. Esoknya, mereka akan mela­kukan pawai bersama-sama menuju Masjid Darussalam Kota Wisata untuk melakukan silaturahmi dengan para san­tri dari pesantren lainnya. ”Itu akan rutin dilakukan setiap tahunnya. Tapi karena pandemi, semua terhenti. Ke­giatan kita di Hari Santri se­karang ini hanya di pondok saja, mengikuti anjuran pe­merintah,” ujarnya. Sementara itu, salah seorang santri yang kini duduk di kelas lima atau setara dengan kelas sebelas Aliyah, Zahra Qurrota A’yuni Zain, mengaku ingin aktivitasnya dalam menyam­but Hari Santri bisa kembali seperti dulu. ”Iya kangen banget, bisa kumpul sama teman-teman di luar pesantren. Ya kurang lebih seperti silaturahmi,” ung­kap perempuan 16 tahun itu. Berbeda dengan Armas Sul­ton Fauzi. Ia yang bercita-cita menjadi seorang dokter itu tetap optimis pandemi Covid-19 ini segera berakhir. Ia yang tergabung dalam kepengurusan Ikatan Santri (Iksada) Pesantren Riyadhul Huda dalam dua tahun terakhir ini selalu berkegiatan positif dalam menyambut Hari San­tri. ”Saya pasti kumpulkan anak-anak kita mengaji bersama. Karena perayaan Hari Santri tidak melulu soal pawai-pa­waian,” ungkap Fauzi yang tak lepas mengenakan kopiah putihnya. Ketua DPRD Kabupaten Bo­gor, Rudy Susmanto, menilai peringatan Hari Santri setiap 22 Oktober bisa dijadikan mo­mentum menjaga nilai-nilai luhur pendidikan. Menurut Rudy, santri adalah simbol manusia Indonesia yang gigih menuntut ilmu, berakhlak mulia, dan berjiwa nasiona­lisme. “Saya berpendapat nilai-nilai kebaikan yang ada pada santri bisa ditularkan kepada murid di lembaga pen­didikan reguler kita,” ujar Rudy, Kamis (21/10). Politisi Gerindra itu berharap sektor pendidikan reguler me­niru cara yang ditempuh pon­pes dalam menumbuhkan nasionalisme kepada siswa. Bagi Rudy, pendidikan ka­rakter yang diajarkan kiai ke­pada santri bukan hanya be­rorientasi pada akhlak indivi­dual dan akhlak sosial, tetapi juga akhlak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Pendidikan karakter men­jadi hal yang lebih utama di­banding pengajaran ilmu pengetahuan. Karena itu, pe­ranan lembaga pendidikan sangat dibutuhkan untuk mencetak generasi yang pintar dan berkarakter, juga cinta kepada tanah airnya,” ungkap­nya. (far/fin/feb/run)

Editor: admin metro

Tags

Terkini

Plaza Bogor Dibongkar usai Lebaran, Pedagang Girang

Kamis, 2 Februari 2023 | 12:14 WIB

Tiga Bocil Puncak Jadi Korban Pedofil

Rabu, 1 Februari 2023 | 10:02 WIB

9 Korban Wowon Cs Tewas, Terakhir Anak-Istri Dihabisi

Jumat, 20 Januari 2023 | 10:01 WIB
X