Senin, 27 Maret 2023

Sebulan Dua Kali Tawuran di Bogor, 1 Tewas

- Senin, 16 Januari 2023 | 10:01 WIB
ilustrasi tawuran
ilustrasi tawuran

Nasi sudah menjadi bubur. Penyesalan tak lagi guna usai tawuran maut terjadi di Bogor. Sejumlah anak di bawah umur juga ikut terseret dalam kasus tawuran yang sepertinya sulit dihentikan. YULI, ibu dari anak korban tawuran, masih syok dengan kejadian yang dialami putranya, AR (17).

Ditemui di rumahnya, Yuli semula tak ingin banyak bercerita. Wajah sedihnya ma­sih tampak saat menceritakan AR, yang saat ini masih dalam pemulihan. Minggu (15/1) siang, AR ada di rumah.

Tapi, yang bersang­kutan menolak dikunjungi. Dari keterangan polisi, AR men­galami luka cukup besar dan lumayan parah di bagian pipi. Yuli juga tak mengira anak kelima dari enam bersaudara itu terlibat tawuran di kawasan Kandang Roda, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, pada Kamis (5/1) lalu.

Apalagi, saat kejadian Yuli mengaku baru saja pindah ru­mah ke tempat yang saat ini ditinggali. AR, putranya juga tidak menunjukkan gelagat aneh sebelum kejadian. “Saya juga baru pindah ke sini. Jadi pas kejadian itu, pas banget baru pindahan ke sini.

Saya pindah tanggal 4 ini, kan kejadiannya malamnya. Dia (AR, red) juga masih bantuin beres-beres bareng sama abang­nya (Akbar, red), bantuin bawain barang,” kata Yuli saat ditemui Metropolitan, Minggu (15/1).

Selang sehari, ia pun kaget begitu mendapat informasi dari temannya bahwa AR ma­suk rumah sakit. Waktu itu, Yuli mendapat kabar sekitar pukul 07:00 WIB. ”Ada temannya dari rumah sakit ngasih tahu kalau anaknya diserang orang tak dikenal.

Akhirnya kami ke sana ngecek,” ujar Yuli. Selama tiga hari, nasib putra­nya hampir terkatung-katung. Sebab, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) tidak mengkaver biaya operasi. Yuli mengaku bahwa putranya baru mendapat penanganan ope­rasi. ”Baru dioperasi itu Senin tang­gal 8 Januari. Baru pulang ke rumah.

Sebelumnya di rumah sakit hanya diinfus saja,” terang Yuli. Yuli juga kaget saat mendapat informasi bahwa putranya bu­kan diserang Orang Tak Dikenal (OTK). Tetapi terlibat tawuran yang sebelumnya memang sudah janjian. Sebagai orang tua, Yuli menga­ku syok mendengarnya. Sebab, selama ini ia merasa putranya yang saat ini duduk di bangku kelas XII SMA baik-baik saja di rumah. “Kalau main mah ya memang dia biasa main di sana (tidak jauh dari TKP, red), makanya saya nggak curiga. Biasanya sekolah dulu, nanti pulangnya langsung main kayak biasa. Jadi nggak pernah izin, kecua­li kalau dia mau nginap di rumah temannya,” jelasnya.

Yuli mengaku tidak menge­tahui cerita lengkapnya ter­kait kronologi yang menimpa anaknya. Ia hanya fokus dan berharap anaknya segera mem­baik. “Gimana sih namanya ibu-ibu ya, melihat anaknya begini. Saya sudah nggak bisa ngapa-ngapain. Jadi saya nggak pengin tahu kenapa-kenapanya. Saya cuma fokus, yang penting dia sembuh dulu. AR ini anak kelima dari enam bersaudara,” tuturnya.

Yuli hanya berharap kasus yang dialami putranya dapat diselesaikan secara kekeluar­gaan. ”Kami gimana dari pihak sananya (keluarga pelaku, red). Kalau ada niatan baik ya kita terima. Dengan catatan jangan ada berkepanjangan. Jadi nggak ada ini-itu di belakangnya. Cu­kup ini sekali saja. Semua peng­innya begitu. Kita mah ngikut saja (secara kekeluargaan, red). Karena kalau diteruskan juga semua anak-anaknya masih di bawah umur semua, masih harus pada sekolah,” harapnya.

Sebelum tawuran yang me­nyeret AR terkuak, mulanya polisi mendapat informasi soal kejadian penyerangan OTK. Namun, setelah ditelusuri, kor­ban ternyata berbohong. Kasat Reserse Kriminal Polres Bogor AKP Yohanes Redhoi mengaku mendapat informasi soal penyerangan enam orang tak dikenal menggunakan se­peda motor. Setelah dilakukan penyelidi­kan, kenyataannya berubah. Saat ini pelaku berinisial DS (17) telah ditangkap polisi aki­bat penganiayaan terhadap AR.

“Ada informasi awal bahwa AR menjadi korban begal. Namun pada hari ini kita luru­skan. Pelakunya sudah tertang­kap. Perkara tersebut bukanlah pembegalan, melainkan AR sudah janjian untuk tawuran pada malam harinya. Kemu­dian dilaksanakan dini hari,” kata Yohanes pada Sabtu (14/1).

Akibat tawuran tersebut, AR mendapatkan luka yang cukup besar dan parah di bagian pipi. Sementara, DS saat ini dalam pemeriksaan secara intensif di Satreskrim Polres Bogor. “Jadi marak sekali tawuran di wilayah Kabupaten Bogor. Da­lam bulan ini sudah dua kali terjadi tawuran. Yang satu me­nyebabkan korban berat dengan luka terbuka di pipi sebelah kanan. Yang satu lagi kemarin mengakibatkan meninggal dunia,” ujarnya.

“Dikenakan Pasal 351 ayat 2 dengan ancaman pidana lima tahun,” tambahnya. Yohanes mengimbau kepada pihak sekolah se-Kabupaten Bogor dan para orang tua untuk lebih memerhatikan aktivitas anak-anak di malam hari.

Halaman:

Editor: admin metro

Tags

Terkini

X