Rabu, 31 Mei 2023

OJK: Laporkan Rentenir Online Ilegal

- Kamis, 14 Februari 2019 | 10:11 WIB

METROPOLITAN - Layanan keuangan berbasis teknologi atau financial technology (fintech) tengah berkembang pesat di In­donesia. Salah satu jenis layanan­nya yang cukup populer saat ini adalah pinjaman online lewat mekanisme peer to peer lending (P2P). Fenomena P2P saat ini menjadi polemik karena banyak masyarakat menjadi korban ren­tenir online ini. Masyarakat ba­nyak yang tidak bisa mengemba­likan dana pinjaman karena dendanya terus bertumpuk.

Bahkan belum lama ini persoalan rentenir online ini merenggut ny­awa. Karena sudah frustasi tidak mampu melunasi pinjamannya. Menanggapi itu, Ketua Dewan Ko­misioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengimbau kepada masyarakat agar berani melaporkan rentenir online ilegal ke pihak Kepolisian dan OJK. ”Itu laporkan ke polisi, kalau merasa dirugikan masyarakat silahkan laporkan ke OJK dan lapor ke Po­lisi. Jadi nanti itu pasti akan dikejar kalau memang ada bukti masyara­kat tersebut ditipu,” kata Wimboh. Wimboh menjelaskan, OJK sela­ku otoritas hanya mampu men­jangkau fintech yang terdaftar. P2P yang terdaftar ini tentunya diketa­hui mulai yang bertanggung jawab hingga daftar nasabahnya. ”Kalau yang terdaftar itu akan ter-record, siapa yang bertanggung jawab dan sudah kita edukasi dan sudah kita bina,” jelas dia. ”Kalau yang tidak terdaftar, mana tahu itu siapa, kita juga nggak tahu. Jadi, pagernya kalau gitu ya satu pilih yang terdaf­tar,” tambahnya. Menurut Wimboh, di website OJK ada daftar nama-nama perusa­haan fintech yang legal dan ber­tanggung jawab dengan para na­sabahnya. Sehingga, masyarakat pun bisa membedakan mana yang ilegal dan legal. Selain itu, Wimboh juga meminta kepada masyarakat untuk lebih memikirkan dengan matang sebelum melakukan pin­jaman. Menurut Wimboh, masy­arakat harus berhitung sesuai ke­butuhan dan kemampuan mem­bayar sebelum memanfaatkan pinjaman. ”Ini kan minjam tidak hanya ke-fintech saja, kemanapun masyara­kat harus mengukur kebutuhan dan kepentingannya, mungkin itu yang harus dipahami, ya kalau ng­gak mampu bayar dan keperluan­nya tidak urgent ya mestinya harus bisa berfikir sendiri, jadi inikan sebenarnya banyak hal yang itu terjadi bukan hanya terjadi di fintech karena nggak hati-hati,” ujar dia. (dtk/els/py)

Editor: Administrator

Tags

Terkini

X