Kamis, 9 Februari 2023

Bisa Bawa Benefit dan Risiko

- Jumat, 9 Agustus 2019 | 09:57 WIB

JAKARTA,Jawa Pos – Pesatnya industri berbasis digital di Indonesia menarik minat investor asing untuk mengguyurkan dana pada perusahaan rintisan (startup) yang tengah naik daun. Sebut saja Gojek, Tokopedia, Bukalapak, dan Traveloka.

Sebagian besar disokong investor asing. Pendanaan asing dinilai memiliki sisi positif dan negatif bagi perekonomian Indonesia. Ekonom sekaligus Ketua Lembaga Pengkajian, Penelitian, dan Pengembangan Ekonomi (LP3E) Kadin Indonesia Didik J. Rachbini menyatakan bahwa investasi asing punya aspek positif.

Salah satunya, menguatkan nilai rupiah. Namun, di sisi lain, jika modal asing itu terlampau dominan dan tidak ter kontrol, timbul risiko bagi Indonesia. Menurut Didik, dividen dari investasi tersebut bakal mengalir ke luar negeri sehingga turut membebani neraca pembayaran Indonesia yang sudah defisit.

’’Selain itu, mengalirnya keuntungan ke luar negeri akan membuat permintaan dolar AS meningkat. Akibatnya, nilai tukar rupiah bisa melemah,’’ jelas Didik kemarin (7/8).

Aliran modal asing terus masuk ke unicorn Indonesia. Investasi itu berasal dari berbagai investor. Mulai Google, Tencent, Alibaba, hingga SofBank. Didik menyarankan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) lebih selektif terhadap investasi yang masuk ke Indonesia.

’’BKPM harus bedakan, semua yang ditarik investasi berorientasi ekspor. Yang sekarang ini investasinya meng eksploitasi pasar dalam negeri semua. Kan barangnya impor,’’ ungkapnya.

Dia berharap pemerintah mendorong perusahaan e-commerce di Indonesia mampu meningkatkan ekspor produk lokal. Tidak tertutup kemungkinan, start-up Indonesia sanggup memenuhi kebutuhan pasar luar negeri.

’’Kami optimistis produsen dalam negeri sanggup memenuhi kebutuhan di Indonesia maupun negara lain. Dengan begitu, defisit pendapatan primer bisa diimbangi kenaikan ekspor,’’ ujarnya.

Plt Deputi Bidang Pengembangan Iklim Penanaman Modal BKPM Yuliot Tanjung mengakui, memang sejauh ini perusahaan start-up masih membutuhkan pendanaan dari luar. Sebab, masih sangat sulit mendapatkan per modalan dari dalam negeri.

’’Untuk dapat pinjaman dari dalam negeri, persyaratannya ketat. Tingkat suku bunganya tinggi,’’ katanya. Menurut Yuliot, pemerintah juga membatasi kepemilikan asing.

Untuk investasi di bawah USD 100 miliar, kepemilikan asing hanya diberi jatah 49 persen. Untuk investasi lebih dari USD 100 miliar, asing boleh menguasai saham perusahaan hingga 90 persen. ’’Hal ini dilakukan agar industri dalam ne geri bisa tumbuh dengan ada nya tambahan modal,’’ tandas nya. (agf/c14/oki)

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Taman Plaza Inovasi IPB Perkuat Program Green Campus

Kamis, 2 Februari 2023 | 19:00 WIB

Izin 1.981 Perusahaan Tambang Dicabut

Kamis, 2 Februari 2023 | 18:00 WIB
X