Sabtu, 4 Februari 2023

200 UMKM Berhasil Naik Kelas

- Kamis, 22 April 2021 | 19:30 WIB

METROPOLITAN - Sebagai tulang punggung perekono­mian nasional, keberadaan Usaha Mikro, Kecil, dan Men­engah (UMKM), terutama saat ini, sangat diandalkan bagi pemulihan ekonomi dari krisis akibat pandemi Covid-19. Ke­menterian koperasi dan UKM mencatat lebih dari 64 juta UMKM saat ini berkontribusi 14 persen terhadap total ekspor nonmigas, 60 persen total in­vestasi, 97 persen total tenaga kerja, dan 61 persen total PDB nasional. Dalam berbagai kesempatan, Presiden Joko Widodo menekan­kan pentingnya kemitraan antara perusahaan besar dengan UMKM. Bahkan, baru-baru ini Jokowi meminta keterlibatan UMKM ditingkatkan dalam rantai pasok industri, terutama otomotif, sehingga mendatan­gkan nilai tambah ekonomi nasional yang lebih besar. PT Astra Internasional Tbk melalui melalui Yayasan Dhar­ma Bhakti Astra (YDBA) mendo­rong UMKM dalam mening­katkan kualitasnya agar me­reka mampu berkembang dan naik kelas. Selama ini, YDBA secara konsisten membina dan mengembangkan UMKM di Indonesia, melalui sejumlah program utama, meliputi pe­latihan, pendampingan, fasi­litasi pemasaran dengan mem­fokuskan pada sektor manu­faktur, bengkel, kerajinan, serta pertanian. Presiden Direktur PT Astra Internasional Tbk Djony Bunar­to Tjondro berharap UKM dan UMKM binaan YDBA yang berada di Tier 1 dan sudah menjadi vendor Astra dapat meningkatkan kualitas mereka. Dengan demikian, mereka da­pat menjadi pemasok kompo­nen atau spare part yang mampu berdaya saing kuat. “Sedangkan UKM di Tier 2, mereka mampu menyerap berbagai training yang diberi­kan YDBA, baik mengenai manajemen dan teknik SOP (standard operastional proce­dure) pembuatan spare part atau alat-alat pertanian se­hingga produk mereka dapat diserap oleh (UKM) Tier 1,” jelasnya. Direktur Astra sekaligus Ketua Pembina YDBA Gita Tiffany Boer menambahkan, selain memberikan pelatihan dan pendampingan serta fasilitasi pemasaran, YDBA juga mendo­rong UMKM berinovasi mulai dari diversifikasi produk, pro­ses bisnis, hingga pemasaran melalui optimalisasi pasar online. Untuk diketahui, sejak didi­rikan pada 1980 hingga Desem­ber 2020, YDBA telah mem­bina 11.695 UMKM. Hingga Desember 2020, YDBA secara tidak langsung turut mencip­takan 70.597 lapangan peker­jaan melalui UMKM yang di­fasilitasinya. Untuk tahun ini, YDBA menargetkan pembi­naan terhadap 300 UMKM di Indonesia. Saat ini terdapat lebih dari 200 UMKM naik ke­las menjadi usaha skala besar, baik nasional maupun inter­nasional. “YDBA memberikan pelatihan pentingnya mentalitas dasar yang diharapkan dapat mening­katkan awareness dan komitmen UMKM untuk menjalankan bisnisnya masing-masing,” jelas Gita. Agar efektif, YDBA menggan­deng pemda setempat untuk memberikan pelatihan. Salah satunya Lembaga Peng­embangan Bisnis (LPB) Tegal yang merupakan kolaborasi antara YDBA dengan Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kabupaten Tegal. LPB Tegal saat ini membina 22 UKM dengan total omset sebelum pandemi atau 2019 sebesar Rp3,26 miliar. Koordinator Lembaga Peng­embangan Bisnis Kabupaten Tegal Suyanto menyatakan YDBA memetakan Tegal seba­gai salah satu sektor unggulan manufacturing logam yang kemudian dibentuk suatu komu­nitas. Dengan adanya komu­nitas tersebut, YDBA mulai secara intensif membina sektor unggulan logam agar memi­liki kompetensi. Ia mengungkapkan di Tegal sendiri terdapat 300 UMKM logam mesin. Dari jumlah ter­sebut, sebanyak 116 UMKM berada di bawah pembinaan LPB, namun yang aktif seba­nyak 91 UMKM dengan meny­erap 854 tenaga kerja. Suyanto menambahkan, ven­dor yang pertama kali masuk ke Astra adalah PT Dharma­poli Metal yang memasok kom­ponen roda dua ke Astra Hon­da Motor (AHM). Kemudian pada 2017–2018, LPB mengaju­kan 20 UKM ke PT Berdikari yang menjadi Tier I pemasok spare part untuk sepeda motor AHM. Dari 20 yang dibawa tersebut, hanya lolos tiga UKM. Salah satu UKM yang kini masuk dalam rantai pasok di Astra adalah PT FNF Metalin­do Utama. Direktur sekaligus pemilik FNF Metalindo Utama, Faizal Amri Elfas mengung­kapkan usahanya sempat mendapatkan tawaran dari PT Dharmapoli Metal pada 2013 untuk menjadi pemasok kom­ponen sepeda roda dua ke AHM. “Dari YDBA menyatakan siap mendampingi. Jadi ada pela­tihan kayak legal perusahaan kayak apa hingga menjadi PT. Kemudian didampingi men­ciptakan sistem 5R (Resik, Rapi, Ringkas, Rajin, dan Rawat). Kita juga dibikinkan sistem kerja modern, karena dulu se­perti bagian quality control, operator, sekaligus keputusan mengirimkan barang adalah saya. Jadi campur aduk,” ung­kap Faizal. Setelah dilakukan audit ter­hadap pengembangan mana­jemen dan proses produksi, akhirnya, pada 2015, FNF Me­talindo masuk ke dalam rantai pasok di AHM. FNF kini me­masok 70–80 item komponen untuk sepeda motor. UKM logam mesin lain di Tegal yang berhasil masuk ran­tai pasok Astra adalah PT Bi­muda Karya Teknik sejak 2018. Direktur sekaligus pemilik PT Bimuda Karya Teknik, Tri Su­kamto, mengaku pihaknya saat ini memasok 70 item komponen otomotif, baik roda dua maupun mobil. “Dengan adanya pelatihan YDBA, baik owner dan karya­wan, IKM sangat terbantu da­lam mengembangkan bisnis. Dengan demikian, kita tinggal jalan saja karena workshop-nya sesuai keinginan costumer,” jelasnya. (jp/feb/run)

Editor: admin metro

Tags

Terkini

Taman Plaza Inovasi IPB Perkuat Program Green Campus

Kamis, 2 Februari 2023 | 19:00 WIB

Izin 1.981 Perusahaan Tambang Dicabut

Kamis, 2 Februari 2023 | 18:00 WIB

Hari Ini BBM Nabati Beredar di SPBU

Rabu, 1 Februari 2023 | 18:00 WIB
X