Senin, 30 Januari 2023

Lindungi Sawah Kami

- Jumat, 22 Februari 2019 | 08:14 WIB

METROPOLITAN - Menurunnya jumlah lahan persawahan di Kabupaten Bogor setiap tahun, diyakini bakal berimbas pada stok pangan di masa mendatang. Hal ini perlu mendapat perhatian khusus dari jajaran pemerintahan Bumi Tegar Beriman untuk menekan angka pengurangan lahan yang mungkin memberikan dampak buruk di generasi selanjutnya. Wakil Bupati Bogor, Iwan Setiawan, mengatakan, berdasarkan laporan Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Bogor, sebanyak 47.000 hektare lahan persawahan terancam hilang dan beralih fungsi. Ia memprediksi jika tak ditanga ni dengan segera, angka itu kemungkinan akan terus menyusut seiring perkembangan zaman dan laju pertumbuhan ekonomi. "Sekarang banyak tanah di desa dan kecamatan dibeli pengembang untuk dijadikan perumahan dan lain sebagainya," tuturnya. Iwan menilai demi menjaga lahan hijau yang ada, tentu diperlukan penguatan berupa payung hukum yang jelas untuk mengatur urusan tersebut. Ia meyakini jika tak ada aturan yang jelas mengenai lahan persawahan, ini akan sulit diatasi di kemudian hari. Terlebih, lokasi Kabupaten Bogor bisa dibilang sebagai salah satu daerah penyangga ibu kota. "Ini tentu tantangan bagi kami untuk mempertahankan lahan yang ada demi ketahanan pangan masyarakat di masa mendatang," bebernya. Sementara itu, Bidang Tanaman Pangan pada DTPHP Kabupaten Bogor, Isna, mengatakan, secara aturan lahan basah atau yang peruntukannya sebagai sumber pangan tak akan berubah, kecuali kalau peruntukannya untuk fasilitas umum. Isna mengaku kesulitan dalam mengantisipasi penjualan lahan yang dilakukan individu masyarakat. "Kalau individu menjual lahan ke pengembang, jujur kami kesulitan mengendalikannya. Karena itu kan hak masyarakat secara pribadi," ujarnya. Secara garis besar, sambung Isna, lumbung pangan Kabupaten Bogor terletak di dua zona, khususnya Bogor Timur dan Bogor Barat. Hampir semua kecamatan masuk zona potensi pangan di Bumi Tegar Beriman. Yang dimaksud zona potensi pangan dihitung berdasarkan luas area persawahan. Sedangkan perkebunan tidak termasuk di dalamnya. "Untuk lahan persawahan banyak tersebar di Bogor Timur dan Bogor Barat yang memang menjadi lumbung pangan Kabupaten Bogor," katanya. Isna mengaku sangat setuju dan mendukung langkah pemkab membuat peraturan yang bertujuan menanggulangi pengurangan lahan persawahan. Selain itu, ia juga membenarkan saat ini jajarannya tengah merancang rumusan yang akan digunakan sebagai salah satu acuan peraturan tersebut. "Kita saat ini tengah merancang beberapa poin yang nanti bakal menjadi peraturan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B)," tuturnya. Menurut dia, semakin banyak dan besar lahan persawahan, tentu akan berdampak pada berlimpahnya pangan bagi warga. Untuk saat ini, baik lahan, jumlah penduduk serta produksi pangan di Kabupaten Bogor cukup stabil. Kendati demikian, hal itu bisa berbalik jika lahan persawahan untuk produksi pangan terus berkurang. Terlebih ditambah dengan meningkatnya populasi penduduk. "Cukup tidak cukup pangan saat ini, itu semua bisa dilihat berdasarkan lahan, jumlah produksi pangan dan jumlah populasi penduduk," pungkasnya. (ogi/c/yok/py)

Editor: Administrator

Tags

Terkini

X