Minggu, 5 Februari 2023

Pesanan Membeludak saat Imlek hingga Lebaran

- Selasa, 2 Februari 2021 | 16:01 WIB

Bunga kim hong atau dikenal dengan sebutan pacar air sering dijumpai digunakan masyarakat saat momentum hari besar keagamaan. Bunga yang memiliki aneka warna itu digunakan sebagai bahan salah satu bunga tabur saat nyekar ke makam sanak saudara atau kerabat. SELAIN sebagai bunga tabur, tanaman yang memiliki nama alamiah Impatiens balsamina L itu memiliki segudang man­faat sebagai tanaman obat dari mulai biji, bunga hingga daun. Budi daya pacar air rupanya tidak hanya dilakukan pada saat momentum hari-hari be­sar tersebut saja. Seperti dila­kukan Suswandi, petani pacar air di Kelurahan Genteng, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. Unang, sapaan karibnya, te­tap membudidayakannya di kebun seluas 800 meter per­segi. Dalam budi daya pacar air, ia tanam beda usia agar stok tetap terjaga terus ber­kesinambungan. ”Sengaja ada yang ditanam benih umur satu bulan dari pembibitan, ada yang umurnya dua bulan, biar ada terus tidak habis,” ka­tanya. Sebelum penanaman, sam­bungnya, dilakukan pengola­han tanah terlebih dulu. Tanah yang sudah digemburkan di­berikan campuran sekam, pupuk kandang, dan didiam­kan sekitar satu minggu. Benih baru boleh ditabur setelah pengolahan tanah maksimal satu minggu. Saat awal ia me­mang membeli, tetapi sekarang sudah mandiri atau punya benih. Untuk perawatan tanaman ini, jelas Unang, tidak terlalu sukar. Pembersih rumput liar di sekitar tanaman utama bisa dilakukan rutin setiap seming­gu sekali. Sedangkan penyira­man bisa dilakukan satu kali setiap sore. Asalkan penyiraman menyesuaikan dengan kon­disi cuaca di Kota Bogor. ”Kalau musim kemarau ham­pir setiap sore. Tapi kalau mu­sim hujan seperti sekarang tidak perlu disiram, cukup dengan air hujan saja,” ujarnya. Menurutnya, tanaman ber­batang basah dan daun me­manjang bergerigi di pinggir­nya ini disukai ulat daun, ulat pohon dan belalang ketika tanaman masih kecil. Untuk mengendalikan gangguan hama tersebut, ia biasanya menyemprotkan pembasmi hama. Pada masa tanam kali ini, ia menanam pacar air beberapa macam warna. Di antaranya bunga merah, putih, ungu, dan oranye serta ping. Tanaman sendiri mulai dapat dipanen saat umur dua bulan sejak penanaman dengan produk­tivitas bunga berbeda-beda pada setiap tanaman. Dari perjalanan usaha selama ini, panen perdana bisa men­ghasilkan sebanyak 25 sampai 40 ember penuh bunga. Per ember setara dengan 1,2 kilo­gram bunga. ”Di kebun seluas 400 meter persegi panen perdana kema­rin itu bisa mencapai 25 sam­pai 40 ember. Nah, setelah itu selanjutnya bisa dipanen kem­bali sepuluh ember per harinya. Satu ember dijual di sini Rp15.000. Kebanyakan yang beli dijual untuk bunga tabur di makam,” jelasnya. Dari usahanya itu, Unang mengaku bisa untuk mencu­kupi kebutuhan keluarganya terlebih di masa pandemi Co­vid-19 ini. Ia juga mengaku akan kebanjiran pesanan pada saat momentum hari besar keagamaan. ”Ramainya saat Idul Fitri, Idul Adha, Natal, Imlek, dan hari besar lainnya,” tutupnya. (ryn/run)

Editor: admin metro

Tags

Terkini

Kunker ke Kota Kisarazu, Bima Arya Perkuat Kerja Sama

Senin, 28 November 2022 | 16:01 WIB

Bantu Korban Gempa Cianjur, Antam Turunkan ERG

Kamis, 24 November 2022 | 11:08 WIB
X