METROPOLITAN.ID - Film Ghost in the Cell garapan Joko Anwar kembali menunjukkan eksplorasi unik dalam dunia perfilman Indonesia.
Mengusung genre horor komedi, film Ghost in the Cell ini tak hanya menghadirkan teror, tetapi juga menyelipkan kritik sosial yang terasa tajam dan relevan.
Sinopsis: Misteri Kematian di Balik Jeruji
Cerita berfokus pada Dimas, diperankan oleh Endy Arfian, seorang jurnalis muda yang dipenjara setelah dituduh membunuh atasannya secara brutal.
Ia dikirim ke penjara Labuhan Angsana, tempat para napi dengan latar belakang kriminal saling berseteru.
Sejak kedatangan Dimas, situasi berubah drastis. Satu per satu tahanan tewas secara misterius dengan kondisi mengenaskan.
Seorang napi bernama Pratama bahkan mengaku bisa melihat aura aneh sebelum kematian terjadi.
Dimas pun menjadi kunci utama untuk mengungkap sekaligus menghentikan rentetan kematian tersebut.
Penjara Brutal Penuh Kekacauan
Latar penjara dalam film ini terasa sangat “hidup”, namun dalam arti yang kelam.
Alih-alih menjadi tempat pembinaan, lapas yang dipimpin Sapto (Kiki Narendra) dengan tangan kanan Jefry (Bront Palarae) justru dipenuhi praktik kekerasan, narkoba, hingga penyalahgunaan kekuasaan.
Di dalamnya, sosok Rendra (Yuhang Ho) sebagai mafia napi menguasai banyak hal, dibantu karakter seperti Tokek (Aming Sugandhi) dan Bimo (Morgan Oey).
Sementara itu, para napi lemah menggantungkan harapan pada Anggoro (Abimana Aryasatya), figur karismatik yang tetap menolong meski harus menghadapi risiko besar.