“Rena Da Frina sebagai antitesis Kasur Dapur Sumur kalimat yang pas untuk memulai tulisan ini”
Oleh: Yoga Prasetia (Founder VOC/Aktivis HMI Kota Bogor)
PEREMPUAN merupakan simbol sejarah ketidakadilan. Ya bagaimana tidak, ketika kita bicara perempuan maka akan dihadapkan dengan masalah ketidakadilan seperti subordinasi dan stereotipe.
Mansour Fakih dalam bukunya analisis Gender dan Transformasi sosial mengatakan bahwa di ranah sosial kemasyarakatan, Perempuan itu dianggap irrasional atau emosional. Oleh karenannya keputusan-keputusan politik yang keluar dari perempuan dianggap kurang penting sehingga dianggap tidak punya kemampuan memimpin. Akibatnya posisi-posisi penting tidak diisi oleh perempuan.
Selain masalah subordinasi, ada masalah stereotip atau pelabelan terhadap perempuan. Perempuan sering mendapat ketidak adilan dalam kehidupannya akibat pelabelan tertentu kepada mereka. Misalnya perempuan yang suka dandan adalah upaya mereka memancing perhatian lawan jenisnya. Maka ketika terjadi pelecehan dan kekerasan seksual yang disalahkan adalah perempuannya.
Masalah yang demikian, jika dilihat dalam perspektif sejarah banyak terjadi diberbagai belahan dunia termasuk di Indonesia. Dalam sejarah Indoesia yang paling banyak diketahui setidaknya ada RA Kartini dan Dewi Sartika. Rasa-rasanya tidak asing kita mendengar Istilah Dapur, Kasur dan Sumur. Tiga kata itulah stereoptipe untuk perempuan di Indonesia pada masanya mungkin masih ada hingga kini.
Baca Juga: 3.000 Sahabat Rena Deklarasi Dukung Rena Da Frina Maju di Pilkada 2024 Kota Bogor
Di era sekarang mungkin masalah-masalah yang diuraikan di atas sudah tidak banyak kita jumpai dalam kehidupan. Di bidang pendidikan perempuan bisa sekolah setinggi-stingginya jika mampu, diranah politik kita di Indonesia sudah pernah dipimpin oleh presiden perempuan yang sekaligus ketua partai politik yaitu Megawati. Banyak pejabat legislatif maupun eksekutif seperti kepala-kepala daerah diisi oleh kalangan perempuan. Ya, meskipun persentasenya masih didominasi laki-laki. paling tidak secara hak dan kesempatan terbuka lebar.
Pada Pilkada serentak 2024 ada yang menarik pada kontestasi pilkada di Kota Bogor dengan hadirnya sosok perempuan yang telah menyatakan siap berkontestasi yaitu Rena Da Frina.
Ada beberapa hal yang menarik dari sosok Rena. Pertama, dia merupakan bakal calon walikota yang cukup berani mendeklarasikan diri jauh setelah bakal calon lainnya, namun cukup menggemparkan karena jumlah warga yang hadir dalam deklarasinya lebih dari tiga ribu orang. Kedua, rekam jejak kinerja beliau di pemerintahan berpeluang merebut sejarah kepemimpinan Kota Bogor yang sebelumnya belum pernah ada walikota perempuan.
Disamping urusan pemilu, hadirnya Rena di publik cukup untuk menginspirasi perempuan di Kota Bogor. Jika tidak berlebihan bisa kita katakan "kalo di Jepara ada RA Kartini dan di Bandung ada Dewi Sartika, maka di Bogor ada Rena da Frina".