METROPOLITAN.ID - Ketidakpastian kebijakan ekonomi Amerika Serikat, terutama di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, turut menggoyang kepercayaan terhadap dolar AS sebagai aset utama.
Dalam situasi seperti ini, banyak analis keuangan menyarankan untuk beralih ke aset safe haven sebagai bentuk perlindungan nilai.
Analis Mata Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong menilai pentingnya penyesuaian strategi portofolio menghadapi situasi global yang tidak menentu.
Baca Juga: Ikuti Uji Kompetensi, Enam Pejabat Berebut Kursi Sekda Kota Sukabumi
Menurut Lukman, salah satu langkah penting untuk bertahan di tengah ketidakpastian adalah dengan memperbesar porsi aset safe haven dalam portofolio.
Ia menyarankan agar setidaknya 30 persen dari total investasi dialokasikan ke instrumen-instrumen aman, sambil mengurangi eksposur terhadap aset berisiko yang cenderung rentan terhadap guncangan ekonomi.
“Diversifikasi dengan menaikkan porsi safe haven paling tidak 30 persen, kurangi aset berisiko, dan naikkan juga cash atau setara,” ujar Lukman saat dihubungi di Jakarta, seperti dikutip suara.com, Jumat, 18 April 2025.
Baca Juga: Demi Optimalkan PAD, Pemerintah Kota Sukabumi Tindak Reklame Tak Berizin
Lukman menegaskan bahwa langkah ini penting untuk memitigasi dampak ketidakpastian global, seperti kemungkinan terjadinya resesi ekonomi dunia atau konflik geopolitik yang berkepanjangan.
Ketegangan antara negara-negara besar, ketidakstabilan suku bunga global, serta fluktuasi pasar komoditas menjadi pemicu meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven.
“Mengurangi paparan terhadap aset berisiko adalah keputusan bijak saat dunia sedang berada dalam ketidakpastian besar,” lanjutnya.
Baca Juga: RS Gading Pluit Resmikan Teknologi PET-CT Digital Omni Legend Pertama di Indonesia
Lukman menyebutkan bahwa emas tetap menjadi pilihan utama investor untuk berlindung dari ketidakpastian ekonomi.
Emas secara historis terbukti sebagai pelindung nilai yang kuat, terutama ketika pasar modal mengalami volatilitas ekstrem.