Namun, emas bukan satu-satunya pilihan. Mata uang Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF) juga merupakan alternatif yang layak dipertimbangkan.
Keduanya memiliki reputasi sebagai mata uang stabil dan sering menjadi tempat "pelarian" saat kondisi pasar global tidak menentu.
Baca Juga: Forum Pemred Bogor Siap Kritisi Kebijakan Rudy Susmanto
“Safe haven masih menjadi pilihan. Selain emas, ada mata uang Yen Jepang dan Franc Swiss,” jelas Lukman.
Lebih lanjut, Lukman juga menyoroti bahwa kenaikan tajam harga emas saat ini tidak sepenuhnya didorong oleh kesadaran investasi jangka panjang.
Banyak investor masuk ke pasar emas karena FOMO (Fear of Missing Out), yakni ketakutan ketinggalan tren kenaikan harga.
“Harga emas yang tinggi saat ini banyak dipicu oleh FOMO. Jadi bukan murni karena masyarakat makin sadar pentingnya berinvestasi di emas,” katanya.
Baca Juga: Kumpulkan 28 Cabor, KONI Kota Bogor Matangkan Persiapan demi Penuhi Target Porprov 2026
Dalam kurun waktu satu tahun terakhir, harga emas tercatat naik sebesar 39,41 persen, menjadikannya salah satu aset dengan kinerja terbaik.
Bahkan, performa emas berhasil melampaui berbagai aset berisiko lain seperti saham teknologi atau kripto.
“Emas sebenarnya adalah investasi jaga nilai, tapi dengan kenaikan setahun terakhir yang mengungguli aset berisiko, emas semakin menarik sebagai investasi komersial,” ujarnya.
Dia juga menyebut bahwa ketidakpastian terhadap arah kebijakan ekonomi Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump juga menjadi faktor besar di balik merosotnya kepercayaan terhadap mata uang dolar AS.
Baca Juga: Melalui BPJS Ketenagakerjaan Pemkab Bogor Anggarkan Rp 4,3 Miliar Jamsostek Bagi Pekerja Non ASN
Beberapa kebijakan kontroversial Trump, termasuk proteksionisme ekonomi dan retorika agresif terhadap negara lain, dinilai mengikis keyakinan investor global terhadap stabilitas dolar.
“Wajar jika investor berbondong-bondong beralih ke emas. Trump dan kebijakan kontroversialnya melemahkan kepercayaan terhadap dolar AS,” jelasnya.