METROPOLITAN.ID - Dua balita di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, meninggal dunia dalam kurun waktu dua hari berturut-turut, diduga akibat infeksi campak.
Peristiwa tragis ini terjadi pada Selasa (26/8) dan Rabu malam (27/8), dengan kedua korban mengembuskan napas terakhir di RS Smart Pamekasan setelah sempat mendapatkan perawatan intensif.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pamekasan, dr.Saifudin, menyebutkan bahwa hasil laboratorium dari kedua balita tersebut masih dalam proses, namun gejala yang dialami mengarah kuat pada indikasi infeksi campak.
Gejala tersebut mencakup demam tinggi, ruam kulit menyebar, batuk, dan mata merah, ciri-ciri umum penyakit campak pada anak-anak.
Baca Juga: Siapa Idham Chalid? Sosok Mantan Ketua DPR Termiskin yang Hidup Sederhana, Tanpa Fasilitas Mentereng
Lonjakan Kasus Campak di Pamekasan
Hingga akhir Agustus 2025, Dinkes Pamekasan mencatat 143 anak telah dinyatakan positif campak dari total 271 kasus suspek yang tersebar di berbagai kecamatan.
Angka ini menunjukkan lonjakan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, dan menjadi sinyal peringatan serius akan kondisi kesehatan anak di daerah tersebut.
Kondisi ini diperparah oleh rendahnya cakupan imunisasi campak di wilayah Pamekasan.
Berdasarkan data internal Dinkes, sejumlah desa menunjukkan angka imunisasi yang masih di bawah standar nasional.
Penyebabnya antara lain:
- Kurangnya edukasi kesehatan masyarakat
- Akses terbatas ke fasilitas layanan imunisasi
- Maraknya isu hoaks dan informasi menyesatkan tentang efek samping vaksin
Ancaman Serius di Balik Campak
Campak bukan sekadar penyakit kulit biasa. Pada anak-anak, penyakit ini bisa berkembang menjadi komplikasi serius, seperti:
- Pneumonia (radang paru-paru)
- Ensefalitis (radang otak)
- Diare parah dan dehidrasi
- Bahkan kebutaan dan kematian
Risiko komplikasi semakin tinggi pada anak-anak dengan gizi buruk dan sistem kekebalan tubuh yang lemah, kondisi yang masih banyak ditemukan di beberapa wilayah pedesaan di Pamekasan.