Rabu, 1 Februari 2023

Tidur Selamanya Bareng Ayah...

- Jumat, 21 Februari 2020 | 09:17 WIB
DUKA: Jenazah Abas sekeluarga diantarkan sejumlah sanak saudara ke tempat peristirahatan terakhirnya di TPU Cibolang, tak jauh dari rumahnya.
DUKA: Jenazah Abas sekeluarga diantarkan sejumlah sanak saudara ke tempat peristirahatan terakhirnya di TPU Cibolang, tak jauh dari rumahnya.

METROPOLITAN - Lantunan tahlil menggema di rumah duka, tempat Abas Abdul Latif, warga Desa Banjarwangi, disemayamkan bersama istri dan dua anaknya. Kamis pagi, rumahnya sudah dipadati sanak keluarga, juga tetangga yang hendak melayat jenazah Abas dan anak istrinya. Seolah tampak ikut berduka, hujan pun mengiringi kepergian satu keluarga yang tewas akibat tertimpa tembok rumah. Di Kampung Cibolang, Desa Banjarwangi, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, tampak seorang wanita paruh baya menitikkan air mata. Emak Amah (60), ibu dari almarhum Abas, tak kuasa membendung tangisnya. Maklum, malam sebelum insiden tembok rumah Abas ambruk, ia masih bertemu dan ngobrol dengan putra keduanya itu. Wanita itu masih terngiang tentang percakapannya untuk menyiapkan acara syukuran rumah Abas pada Kamis (20/2) malam. Namun, bukannya menyiapkan acara syukuran rumah, ia malah mengurusi tahlilan untuk anak dan dua cucunya yang meninggal tragis. “Malam ini (tadi malam, red) harusnya mau syukuran rumah, tapi malah tahlilan,” ucapnya lirih. Sebelum kejadian tembok ambruk, Amah sempat menahan anak dan cucunya pulang ke rumah. Sebab, saat itu kondisi sedang hujan deras. Esa, cucu Amah yang merupakan anak kedua dari almarhum Abas, biasanya menginap di rumahnya. Namun, malam itu Esa mengaku ingin pulang bersama ayah. “Sudah dibilangin, tidur di rumah saja. Tapi dianya nggak mau, mau tidur sama ayah, katanya," tutur Amah. Rupanya, Esa betul-betul tidur selamanya dengan sang ayah, akibat insiden maut tembok ambruk pada Kamis (20/2) dini hari. Sekitar pukul 03:00 WIB, Amah mengaku mendengar suara gemuruh. Ia pikir suara itu merupakan suara petir yang biasa terjadi saat hujan deras mengguyur kawasan Ciawi. Di pagi hari, Abas yang biasanya sudah beraktivitas dan mengantar sang istri bekerja, tidak tampak. Malah lampu rumahnya masih menyala sampai pukul 07:00 WIB. Adik mendiang Abas, Tobi (40), yang curiga pun, mencoba membangunkan Abas dan keluarganya yang dikira masih tertidur karena hujan masih mengguyur. Sebab, seharusnya di pagi hari, Abas mengantarkan sang istri bekerja di PT Yongjin. Karena tak ada jawaban, ia pun mendobrak pintu rumah berwarna putih itu dan mendapati bagian ruang tengah rumah sudah kotor oleh tanah. Namun saat mengecek ke kamar di bagian kanan rumah, yang ia temui bukanlah sang kakak yang masih tertidur. Namun empat pasang kaki yang berada di bawah timbunan tembok rumah. Cahaya yang masuk dari sela-sela lubang tembok yang ambruk pun membuat kamar yang biasanya jarang digunakan untuk tidur itu basah. Selama kurang lebih 30 menit, sang adik dan warga bergotong-royong mengeluarkan keempat korban yang tertimbun material tembok dan tanah. Keempat korban itu langsung dibawa ke RSUD Ciawi untuk dilakukan autopsi setelah berhasil dikeluarkan dari reruntuhan tembok. Berdasarkan hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP), diketahui tembok kamar yang jebol memang sudah lapuk dan tidak kuat menahan air yang masuk ke sela-sela tembok sekitar 50 cm. Saat proses mengantar jenazah dari rumah duka ke masjid, tampak dua jenazah milik Esa Baskilah (6) dan Ean (balita) dibawa tanpa menggunakan keranda. Hanya ditutupi sehelai kain cokelat dan dipayungi tetangganya, warga berbondong-bondong menyalatkan jenazah itu di Masjid Nurul Huda yang tak jauh dari rumah duka. Dipimpin langsung tokoh masyarakat sekitar, suasana salat jenazah tampak khusyuk dan penuh duka. Bahkan, Wakil Bupati Bogor Iwan Setiawan tidak ketinggalan mengantarkan almarhum ke liang lahad. Tiga buah lubang yang memiliki lebar 2x1 meter dengan kedalaman 1,5 meter sudah tampak di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Cibolang. Liang lahad itu sudah disiapkan sedari pukul 10:00 WIB sebagai tempat peristirahatan terakhir Abas dan dua anaknya. Isak tangis dan air mata keluarga serta kerabat korban pun bercucuran, seraya tiga jenazah tersebut masuk liang lahad. Namun untuk jenazah sang istri, Ela Latifa, dimakamkan di Telukpinang, sesuai keinginan pihak keluarganya. Sementara itu, sang adik, masih tidak percaya bahwa Abas harus meninggalkan empat anak dari istri pertamanya yang kini sudah memiliki ruangan sendiri di atas rumah Abas yang sudah ditempati sejak 1995. “Memang untuk temboknya tidak pernah diperkuat. Hanya beton pondasi rumah saja yang kemarin dikuatkan karena untuk kebutuhan pembangunan lantai dua,” kata Tobi. Selain itu, sosok kakak yang mengayomi keluarga sangat kental terasa dalam diri Abas. Ia sendiri mengaku merasa kehilangan sosok kakak yang bisa dijadikan panutan karena bisa hidup mandiri. Walau sempat diterpa masalah perceraian, Abas masih bisa menafkahi empat anaknya dari istri pertama dan dua anak dari istri keduanya, hanya dengan bekerja sebagai tukang ojek pangkalan di dekat SMA PGRI 1 Ciawi. Aldi (19), anak dari istri pertama Abas, baru mendapatkan kabar sang ayah meninggal dunia pada pagi sekitar pukul 10:00 WIB. Sebab saat kejadian, ia sedang berada di Tangerang untuk melamar pekerjaan. “Memang biasanya tidur di atas sejak dua bulan terakhir. Kalau saja aku ada di rumah, aku pasti bisa nyelamatin ayah, karena aku biasa begadang sama ayah,” ujarnya. Ia pun merasa heran kenapa sang Ayah dan ibu tiri serta adik-adik tirinya itu tidur di kamar. Biasanya, adik-adiknya itu tidur bersama neneknya, sedangkan sang ayah tidur di ruang tengah. Sebab, kondisi kamar yang lembap sudah tidak nyaman ditinggali. Namun untuk membahagiakannya, Aldi mengaku sang ayah bekerja keras untuk membangun rumah di atas rumahnya terdahulu saat masih bersama ibunya sebelum cerai. Kejadian yang menimpa keluarga Abas sontak menarik perhatian Bupati Bogor Ade Yasin dan wakilnya, Iwan Setiawan. Saat ditemui di lokasi bencana, Ade Yasin yang didampingi Wakil Ketua I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bogor Agus Salim, menyampaikan rasa belasungkawanya. Bupati cantik itu menegaskan tingginya angka bencana di Kabupaten Bogor pada awal 2020 harus segera ditanggapi serius oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor. Menurutnya, untuk mengurangi angka korban akibat bencana, program Desa Tanggap Bencana (Destana) harus dijalankan secara seksama. "Sekarang ini kan baru ada 40 Destana dari 416 desa. Kami tahun ini akan mendorong anggaran untuk BPBD agar diperbesar," kata wanita yang akrab disapa AY itu. AY menjelaskan fungsi dan tugas Destana untuk memberi edukasi mitigasi bencana kepada warga dan menjadi garda terdepan dalam menyampaikan peringatan dini bencana kepada masyarakat. "Jadi nanti masyarakat akan kami latih menjadi petugas yang siap menghadapi bencana. Mendeteksi dini, mengedukasi dan memberikan peringatan dini," jelasnya. Tim ahli yang sudah tergabung dalam Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor, menurut politisi PPP itu, harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. "BPBD jangan hanya menjadi dinas yang tidak diperhatikan. Jadi setelah terjadi beberapa bencana belakangan ini, kami sadar kalau anggaran di BPBD masih kurang, dan mereka harus menjadi ujung tombak bencana," tutupnya. Cuaca ekstrem yang melanda Bogor beberapa pekan terakhir ternyata sudah diprediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Wilayah Kabupaten Bogor dan Kota Bogor sendiri, menurut Kasi Data dan Informasi Badan Meteorologi dan Klimatologi Bogor Hadi Saputra, bukan masuk zona musim. "Makanya hujan selalu ada setiap bulannya. Beda dengan wilayah lain yang jelas musim hujan atau kemaraunya," katanya. Namun secara umum, lanjut Hadi, awal musim kemarau akan mulai di April-Mei untuk wilayah Jawa Barat. Tetapi sampai April masih ada potensi cuaca ekstrem, di mana hujan deras disertai angin dan petir akan melanda. "Untuk waktunya, kami infokan melalui peringatan dini yang kita release jika sudah muncul kondisi akan terjadi cuaca ekstrimnya," pungkasnya.(dil/D/FEB)

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Tiga Bocil Puncak Jadi Korban Pedofil

Rabu, 1 Februari 2023 | 10:02 WIB

9 Korban Wowon Cs Tewas, Terakhir Anak-Istri Dihabisi

Jumat, 20 Januari 2023 | 10:01 WIB

Sebulan Dua Kali Tawuran di Bogor, 1 Tewas

Senin, 16 Januari 2023 | 10:01 WIB
X