Sabtu, 4 Februari 2023

Pelajar Bogor Surati Jokowi, Minta Akses Jalan Diperbaiki

- Rabu, 19 Agustus 2020 | 12:26 WIB

Prihatin. Satu kata untuk menggambarkan kondisi anak-anak pengungsi di Sukajaya, Kabupaten Bogor, imbas bencana alam yang melanda pada awal 2020. Di tengah peringatan Hari Kemerdekaan ke-75 Indonesia, Pelajar Bogor masih merasakan kesulitan mengenyam pendidikan yang layak. SEPERTI yang dirasakan salah satu siswi kelas X SMK Negeri 1 Lebak Gedong, Ira Wi­jayanti. Setelah mereka mengalami bencana alam yang terjadi awal 2020 hingga pandemi Covid-19 yang menyusul setelahnya, mereka masih me­rasa kesulitan terhadap akses menuju sekolah.­ Ira pun lantas mengirimkan surat kepada Presiden Joko Widodo yang berada di Istana Negara agar segera malakukan perbaikan akses jalan yang rusak sangat parah, jembatan-jembatan yang putus dan kondisi perekonomian yang semakin berkurang. ”Surat ini ditujukan kepada Bapak Presiden dan pemerin­tah. Saya mau mengeluh. Dari akses jalan yang rusak sangat parah, jembatan-jem­batan yang putus, dan kondisi perekonomian yang semakin berkurang,” kata Ira. Selama menjabat presiden, ungkap Ira, Joko Widodo selalu berada di Istana Negara Bogor. Dan jarak Istana menuju lokasi tersebut tidak jauh dan masih satu wi­layah atau bisa dikatakan tak jauh dari Kabupaten Bogor. Sebelum menulis surat itu, Ira menceritakan banyak hal. Dari setiap hari ia jalani menu­ju sekolahnya yang berlokasi di daerah tetangga, Banten. Pilihannya bersekolah di sana bukan tanpa sebab. Ia yang baru duduk di bangku SMK itu kemudian beralasan, akses menuju pusat Sukajaya luar biasa tantangannya. Ka­dang butuh waktu berjam-jam untuk mencapainya. Ira tinggal di bagian ujung Kecamatan Sukajaya yang ber­batasan dengan Banten. Yakni di Kampung Ciear, Desa Ci­leuksa. Kampung Ciear meru­pakan satu dari tiga kampung terisolasi hingga sekarang. Dua kampung lainnya, yakni Kam­pung Ciparempeng dan Cijai­rin, masyarakat di sini sering menyebutnya dengan Kampung 3C. Dari kantor Desa Cileuksa, tepatnya di Kampung Cileuksa Utara, butuh waktu hampir dua jam berjalan kaki untuk sampai. Dengan kendaraan roda dua, bisa meminimalisasi sekitar satu jam, jika jalurnya sedang bagus. Jika hujan deras, apal­agi seharian, jangan harap bisa jalan dengan tenang. Belum lagi banyak titik-titik yang ma­sih rawan longsor. Begitupun satu-satunya ak­ses terdekat menuju tiga kam­pung itu kondisinya mengk­hawatirkan. Yakni di Jembatan Ciparempeng, yang mengalir di bawahnya Sungai Ciberang. Lantas hal itu yang membuat Ira tak mau mengambil risiko. “Kondisi akses menuju se­kolah juga jadi sangat terbeng­kalai. Mulai dari jalan, jem­batan dan yang lainnya. Mun­gkin ini hanya sedikit curha­tan saya yang bisa disampai­kan ke Bapak (Presiden, red) dalam kertas putih ini,” kata Ira sambil tersenyum. Menanggapi hal itu, Kepala Desa Cileuksa Ujang Ruchy­adi, atau biasa disebut Apih, memandang sebagai pemerin­tah desa atau masyarakat itu adalah bentuk keluhan dari mereka. Termasuk curhatan mereka dengan kondisi ke­bencanaan yang terjadi pada 1 Januari 2020 lalu. “Setidaknya warga itu men­curahkan hati dengan keluhan-keluhan tersebut. Intinya sangat positif, karena dengan kondisi sekarang di lapang terkait dengan infrastruktur, sarana pendidikan kesehatan, termasuk perekonomian,” pungkasnya. (ps/rez/run)

Editor: admin metro

Tags

Terkini

Plaza Bogor Dibongkar usai Lebaran, Pedagang Girang

Kamis, 2 Februari 2023 | 12:14 WIB

Tiga Bocil Puncak Jadi Korban Pedofil

Rabu, 1 Februari 2023 | 10:02 WIB

9 Korban Wowon Cs Tewas, Terakhir Anak-Istri Dihabisi

Jumat, 20 Januari 2023 | 10:01 WIB
X