METROPOLITAN.ID - Penguatan kapasitas kepemimpinan pelajar menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang kolaboratif.
Upaya ini diwujudkan melalui penyediaan ruang belajar partisipatif dengan menghadirkan Robby Firliandoko, dosen sekaligus Kepala Program Studi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Djuanda (UNIDA) Bogor.
Dalam workshop pengembangan organisasi tahunan di SMAN 6 Kota Bogor yang melibatkan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), Majelis Perwakilan Kelas (MPK), dan ekstrakurikuler.
Baca Juga: Bupati Bogor Rudy Susmanto Perkuat Pelestarian Sejarah sebagai Pilar Penguat Identitas Daerah
Workshop ini mengangkat tema 'Kolaborasi OSIS, MPK, dan Ekstrakurikuler dalam Mewujudkan Generasi Panca Waluya SMAN 6 Kota Bogor' sebagai upaya memperkuat sinergi antarorganisasi siswa dalam membangun karakter dan kepemimpinan yang berkelanjutan.
Kepala SMAN 6 Kota Bogor, Tinasari Pristiyanti, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan upaya untuk membangun karakter kepemimpinan siswa yang adaptif dan kolaboratif.
“Kegiatan ini merupakan upaya sekolah dalam membangun karakter kepemimpinan siswa yang adaptif dan kolaboratif. Kami juga selalu mengaitkannya dengan nilai Panca Waluya sebagai program dari Jawa Barat, yang bertujuan mencetak generasi tangguh yang mampu menghadapi tantangan masa depan melalui pendekatan karakter, mental, dan fisik,” ungkapnya.
Dalam sesi awal, Robby membuka ruang dengan merefleksikan pengalamannya sebagai mantan Ketua MPK sekaligus alumni SMAN 6 Kota Bogor, serta perjalanan akademiknya yang menurutnya turut membentuk arah kariernya saat ini.
Memasuki sesi utama, Robby menjelaskan bahwa program kerja merupakan fondasi arah organisasi. Program kerja diibaratkan sebagai kendaraan yang membutuhkan navigasi yang jelas, sekaligus melalui proses filterisasi agar tetap relevan dan berdampak.
“Gagal berencana sama saja dengan merencanakan kegagalan,” ujarnya.
Diskusi turut diperkaya oleh pengalaman siswa.
Ketua OSIS SMAN 6 Kota Bogor Yasmina menyampaikan bahwa pelaksanaan kegiatan berskala besar seperti pentas seni membutuhkan perencanaan yang matang, mengingat banyak dinamika yang muncul baik dalam tahap persiapan maupun pelaksanaannya.
Melalui sesi workshop, siswa dibagi ke dalam 15 kelompok untuk merancang program kerja sekaligus mempresentasikannya secara langsung.
Proses ini menjadi ruang eksplorasi ide yang mendorong peserta untuk mengembangkan kreativitas, berdiskusi, serta menyepakati keputusan bersama.