Rabu, 8 Februari 2023

Pansus Angket Komisi Pemberantasan Korupsi

- Minggu, 11 Juni 2017 | 16:00 WIB

METROPOLITAN – "Kalau dikembalikan, habis saya sama kawan-kawan saya di DPR," ujar Miryam Haryani seperti ditirukan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan dalam pemeriksaan pada 24 Januari 2017.

Secara tak sengaja mantan anggota Komisi II DPR ini mengungkap ketakutannya. Maklum pusara korupsi e-KTP pada tahun 2011-2012 yang kini membelit Miryam itu diakui memang bukan kasus seharga nasi bungkus.

Setidaknya ada uang Rp2,3 triliun dikabarkan melipir ke dompet para dewan. "Ini kasus (korupsi) yang terbesar yang pernah ditangani KPK," ujar Peneliti Indonesia Corruption Watch Tama S Langkun.

Nama Miryam, sebelumnya muncul ketika ia menjadi saksi lantaran namanya disebut para terdakwa kasus korupsi e-KTP, Irman dan Sugiharto.

Sosok politikus Partai Hanura ini memang mengetahui betul bagaimana skema alur duit korupsi e-KTP. Itu ditunjukkan Miryam dalam keterangannya ketika diperiksa oleh KPK.

Atas itu, kesaksian Miryam di kasus e-KTP memang benar-benar penting. Sebab nyanyiannya bisa mengurai siapa di balik bobroknya proyek nasional senilai Rp6 triliun tersebut.

Namun demikian, entah mengapa secara mengejutkan Miryam malah membantah semua keterangannya. Ia berdalih dalam tekanan ketika diperiksa. Singkatnya apa yang disebut Miryam, soal siapa saja yang menerima uang e-KTP adalah keterangan ngawur.

Sejak itu, usai sidang pada 27 Maret 2017, ulah Miryam berbuntut panjang. Sikapnya yang berbalik arah malah memunculkan drama baru.

-

Halaman:

Editor: admin metro

Tags

Terkini

Pesawat Susi Air Dibakar, Pilotnya Disandera OPM

Rabu, 8 Februari 2023 | 09:04 WIB
X