Sabtu, 4 Februari 2023

Disomasi Rp1 T Gegara Oknum Guru Cabuli Siswa, Yayasan Al Azhar Plus Bogor : Salah Sasaran

- Jumat, 14 Oktober 2022 | 17:47 WIB
Kepala SMP Al Azhar Plus Bogor Masduki bersama kuasa hukum Akhmad Hidayat. (Dok. Metropolitan)
Kepala SMP Al Azhar Plus Bogor Masduki bersama kuasa hukum Akhmad Hidayat. (Dok. Metropolitan)

METROPOLITAN.id - Kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oknum guru SMP Al Azhar Plus Bogor, H (68), terhadap mantan siswa berinisial S (15) memasuki babak baru. Selain melaporkan mantan gurunya ke Polresta Bogor Kota, korban melalui kuasa hukumnya juga melayangkan somasi kepada Yayasan SMP Al Azhar Plus Bogor meminta pertanggungjawaban secara keperdataan dan menuntut sekolah serta yayasan untuk mengganti kerugian materil Rp150 juta dan immateril Rp1 triliun. Yayasan SMP Al Azhar Plus Bogor melalui Kuasa Hukum SMP Akhmad Hidayat menanggapi dengan tanggapan keras atas somasi yang dilayangkan. Ia mengatakan bahwa somasi yang dilayangkan salah sasaran dan menyudutkan pihak yayasan dan sekolah. Sebab kasus bergulir, oknum guru tersebut sudah mendapat tindakan tegas dari yayasan berupa pemecatan sebagai guru per 15 September 2022. Diketahui, kuasa hukum korban S membuat laporan ke Polresta Bogor Kota pada 22 September 2022. Selain itu, kata dia, pihak sekolah juga lah yang membawa oknum guru tersebut kepada polisi. Pihaknya pun merasa perlu meluruskan informasi yang beredar di masyarakat. "Sekolah sudah tindak tegas kepada H sudah melakukan hal terbaik dalam perkara ini. Saat kejadian itu, pihak sekolah sudah memecat oknum guru tersebut. Secara kepidanaan, itu sudah selesai karena murni perbuatan oknum tersebut secara personal," katanya kepada Metropolitan.id, Jumat (14/10). Sehingga pihaknya pun membantah somasi yang menyebut yayasan tidak punya itikad baik dalam perkara ini. "Salah besar kalau dibilang tidak ada itikad baik. Somasi yang dilayangkan minta tanggungjawab Rp1 triliun (ke pihak sekolah) itu ya bisa dibilang salah sasaran," imbuhnya. Tak hanya itu, sambung dia, selepas kejadian pun pihak yayasan dan sekolah melakukan evaluasi menyeluruh. Termasuk para guru. Terkait perilaku oknum guru H, Akhmad Hidayat menegaskan bahwa pihak sekolah sangat mengutuk perbuatan itu dan sama sekali tidak dibenarkan. "Tentu sekolah tidak bisa awasi satu-satu guru atau selama 24 jam. Tentu kalau tahu, ya akan dicegah. Jadi memang perilaku itu diluar kendali pihak sekolah," tukas kuasa hukum dari Kantor Hukum Akhmad Hidayat & Partner itu. Sejauh ini, kata dia, pihak yayasan dan sekolah Al Azhar Plus Bogor sudah berupaya menciptakan suasana pendidikan yang bebas dari tidak pidana kekerasan. Namun diakuinya tidak semua punya karakter baik dan tidak bisa seluruhnya diawasi pihak yayasan. "Mengenai kerugian materil maupun immateril korban, tentu tidak bisa dimintakan pertanggungjawaban ke sekolah karena tidak ada dasar hukum. Kami rasa itu mengada-ngada saja," tegas Daday, sapaan karibnya. Sementara itu, Kepala SMP Al Azhar Plus Masduki menuturkan bahwa pihak yayasan dan sekolah tidak memberikan toleransi atas perilaku oknum guru H kepada mantan siswanya, S. Ia meyakinkan hal itu dengan tindakan tegas dari yayasan dengan melakukan pemecatan atas oknum guru tersebut pasca kedapatan melakukan dugaan pencabulan. Selain itu, ditegaskan dengan pihak yayasan dan sekolah yang juga sama sekali tidak memberikan bantuan hukum pada oknum guru H. "Kami nggak beri toleransi untuk perilaku seperti itu. Bentuk tindakan tegas kita selain pemecatan, kita juga tidak memberikan bantuan hukum kepada oknum guru tersebut. Perbuatan itu murni perilaku personal dan kita berharap masyarakat juga paham perkara ini," tukasnya. Diketahui, tim kuasa hukum korban melalui Kantor Hukum Sembilan Bintang & Partner membuat laporan Ke Polresta Bogor Kota dengan nomor : STBL/B/1072/IX/2022/SPKT/Polresta Bogor Kota/Polda Jawa Barat tertanggal 22 September. Dengan ancaman pidana diatas 10 tahun penjara. Selain itu, tim kuasa hukum S melayangkan surat peringatan atau somasi ke pihak sekolah serta yayasan dengan maksud untuk meminta pertanggungjawaban secara keperdataan. Menuntut pihak sekolah serta yayasan untuk mengganti kerugian baik moril, materil sampai immateril sebesar Rp1 triliun. Sebab sekolah dianggap lalai dan membiarkan perilaku H kepada S dilakukan dengan bebas, yang menyebabkan kerugian yang diderita S. Diketahui, kasus dugaan tindak pelecehan seksual sendiri dilaporkan terjadi pada Jumat (26/8) lalu. Di mana, saat itu korban diketahui pergi ke sekolah lamanya setingkat SMP yang ada di bilangan Kecamatan Bogor Barat itu untuk melakukan penyelesaian pengambilan ijazah dengan stempel tiga jari. Kemudian, ketika korban sudah sampai ke sekolah dan selesai melakukan proses stempel tiga jari, tiba-tiba dirinya ditarik mantan gurunya tersebut. Lalu, di dalam penarikan tangan tersebut terjadi tindak pelecehan seksual, di mana mantan gurunya ini memegang bagian anggota tubuh korban. Tak hanya sampai situ, ketika korban memberontak dengan cara melepas genggaman oknum guru ini, H malah bersikeras memegang anggota tubuh S sambil merangkulnya. Dari situ, korban akhirnya pulang dan mengadukan hal ini kepada orangtuanya. Merasa tak terima, ibu korban akhirnya memutuskan untuk melaporkan kejadian ini ke aparat kepolisian. (ryn)

Editor: Ryan Milan

Tags

Terkini

Sabtu Pagi Bogor Diguncang Gempa, Ada yang Terasa?

Sabtu, 4 Februari 2023 | 09:50 WIB

Menghilangkan Bau Durian Secara Ampuh, Begini Tipsnya

Jumat, 3 Februari 2023 | 19:11 WIB

SMKPP Kementan Bekali Calon Wirausaha Muda Pertanian

Jumat, 3 Februari 2023 | 15:00 WIB
X