Jumat, 3 Februari 2023

6 Bulan Menikah Aku tak Pernah Disentuh (6)

- Selasa, 2 April 2019 | 09:05 WIB

METROPOLITAN -Dia begitu santun pada orang-orang dan begitu patuh kepada kedua orangtuanya. Bahkan terhadap aku pun hampir semua kewajibannya telah dia tunaikan dengan hikmah, tidak pernah sekali pun dia bersikap kasar dan berkata-kata keras padaku. Bahkan Kak Arfan terlalu lembut bagiku. TAPI satu yang belum dia tunaikan yaitu nafkah batinku. Aku sendiri saat mendapat perlakuan darinya setiap hari yang begitu lembutnya mulai menumbuhkan rasa cintaku padanya dan membuatku perlahan-lahan melupakan masa laluku bersama Boby. Aku bahkan mulai merindukannya tatkala dia sedang tidak dirumah. Aku bahkan selalu berusaha menyenangkan hatinya dengan melakukan apa-apa yang dia anjurkannya lewat ceramah-ceramahnya pada wanita-wanita muslimah, yakni mulai memakai busana muslimah yang syar’i. Memang dua hari setelah pernikahan kami, Kak Arfan memberiku hadiah yang diisi dalam karton besar. Semula aku mengira bahwa hadiah itu adalah alat-alat rumah tangga. Tapi setelah kubuka, ternyata isinya lima potong jubah panjang berwarna gelap, lima buah jilbab panjang sampai selutut juga berwana gelap, lima buah kaos kaki tebal panjang berwarnah hitam dan lima pasang manset berwarna gelap pula. Jujur saat mem­bukanya aku sedikit tersinggung, sebab yang ada dalam bayanganku bahwa inilah konsekuensi menikah dengan seo­rang ustadz. Aku mengira bahwa dia akan memaksa aku untuk menggunakannya. Ternyata dugaanku salah sama sekali. Sebab hadiah itu tidak pernah disentuhnya atau ditanyakannya. Kini aku mulai menggunakannya tanpa paksaan siapa­pun. Kukenakan busana itu agar diatahu bahwa aku mu­lai menganggapnya istimewa. Bahkan kebiasaannya sebelum tidur dalam mengajipun sudah mulai aku ikuti. Kadang ceramah-ceramahnya di mesjid sering aku ikuti dan aku praktekan di rumah. Tapi satu yang belum bisa aku mengerti darinya. Entah mengapa hingga enam bulan pernikahan kami dia tidak pernah menyentuhku. Setiap masuk kamar pasti sebelum tidur, dia selalu mengawali dengan mengaji, lalu tidur di atas hamparan permadani dibawah ranjang hingga terjaga lagi di sepertiga ma­lam, lalu melaksanakan sholat tahajud. Hingga su­atu saat Kak Arfan jatuh sakit. Tubuhnya demam dan panasnya sangat tinggi. Aku sendiri bingung bagai­mana cara menanganinya. Sebab Kak Arfan sendiri tidak pernah menyentuhku. Aku khawatir dia akan menolakku bila aku menawarkan jasa membantunya. Ya Allah..apa yang harus aku lakukan saat ini. Aku ingin sekali meringankan sakitnya, tapi apa yang harus saya lakukan ya Allah..(cer) (bersambung)

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Salahkah Aku Menolak Bantu Rawat Keponakan

Kamis, 2 Februari 2023 | 21:00 WIB

Inilah Keputusanku Menikah Beda Agama (2)

Senin, 9 Januari 2023 | 21:01 WIB

Inilah Keputusanku Menikah Beda Agama (1)

Jumat, 6 Januari 2023 | 21:01 WIB

Ayahku Nikah Lagi, Hidupku Berantakan (Habis)

Kamis, 29 Desember 2022 | 21:01 WIB

Sedihnya Aku Hidup Bareng Keluarga Toxic (Habis)

Selasa, 27 Desember 2022 | 21:01 WIB

Sedihnya Aku Hidup Bareng Keluarga Toxic (1)

Senin, 26 Desember 2022 | 21:01 WIB

Menderita karena Cinta (Habis)

Jumat, 23 Desember 2022 | 21:01 WIB

Menderita karena Cinta (2)

Kamis, 22 Desember 2022 | 21:01 WIB

Menderita Karena Cinta (1)

Rabu, 21 Desember 2022 | 21:01 WIB

Suami nggak Kerja, Aku Jadi Tersiksa (Habis)

Selasa, 20 Desember 2022 | 21:01 WIB

Suami nggak Kerja, Aku Jadi Tersiksa (1)

Jumat, 16 Desember 2022 | 21:01 WIB
X