Sabtu, 4 Februari 2023

Jeritan Korban Penipuan Pinjol Siti, Mending Balikin Komisi Daripada Ditagih Utang Tiap Hari

- Senin, 21 November 2022 | 10:01 WIB
MAHASISWA TERJERAT PINJOL
MAHASISWA TERJERAT PINJOL

Nasi sudah menjadi bubur. Nama ratusan mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) University sudah tercatat dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Termasuk tagihan pinjaman online (pinjol) yang melilit mereka dalam kasus penipuan ‘Pinjol Siti’. SAN alias Siti sudah ditahan polisi. Siti menjadi tahanan Polres Bogor sejak kasus ra­tusan mahasiswa IPB Uni­versity terlilit pinjol mencuat. Kepada penyidik, Siti menga­kui perbuatan curangnya yang tega mengelabui ratusan orang untuk masuk jeratan pinjol. Tercatat ada 116 maha­siswa IPB University yang jadi korban ‘Pinjol Siti’. Me­reka dijebak untuk melaku­kan pinjol dengan iming-iming mendapatkan komisi 10 persen dari nilai pinjaman yang cair. Demi meyakinkan targetnya, komisi tersebut langsung diberikan pelaku kepada para korban, hingga akhirnya banyak mahasiswa yang ter­lilit utang pinjol. Saat ini para korban ba­nyak yang dibikin mumet karena harus membayar ta­gihan yang membengkak. Bahkan, ada yang harus membayar tagihan mencapai belasan dan puluhan juta rupiah. Daffa, salah satunya. Ma­hasiswa semester tiga itu masuk jeratan ‘Pinjol Siti’. Daffa menuturkan, demi me­muluskan aksinya, Siti meng­gunakan tiga aplikasi pinjol. Yakni, Kredivo, Akulaku, dan Shopee PayLater. Daffa menjelaskan ada kor­ban lain yang membuka akun bersamanya, tetapi ada juga yang sebelum dan sesudah­nya. ”Kalau saya sendiri itu se­benarnya Kredivo sama Aku­laku. Kalau teman saya nam­bah Shopee PayLater. Sebe­narnya ada tiga aplikasi inti. Cuma untuk saya sendiri kenanya di Akulaku dan Kre­divo. Kalau saya itu Rp12,7 juta (total kerugian, red). (Tagihan, red) Yang sedang berlangsung sekitar Rp7 juta. Yang sudah saya kelu­arkan buat nalangin itu se­kitar Rp5,7 juta,” papar Daf­fa soal aplikasi pinjol yang digunakan dan total kerugi­annya. Setelah akun jadi dan Daf­fa dapat limit pinjaman, Siti memintanya dan para korban lain untuk melakukan pem­belian barang di akun Toko­pedia miliknya. Skema pem­bayaran yang ia minta adalah cicilan menggunakan limit dana pinjol. Ia diminta Siti membeli barang dengan cara pem­bayaran cicilan menggunakan Kredivo. Pelaku berjanji akan membayar cicilan bulanan tagihan tersebut dengan iming-iming akan diberi im­balan 10 persen keuntungan dari jumlah tagihan tersebut. Koordinator korban peni­puan, Dewi Aryani, menga­ku banyak korban yang ter­bebani dengan tagihan pin­jol yang masuk. Apalagi, tak sedikit dari mahasiswa yang belum berpenghasilan. Se­hingga, secara finansial belum sanggup membayar tagihan. “Korban berharap agar mendapat keringanan. Se­benarnya mau saja untuk membayar. Tapi kalau tagi­hannya seperti yang sekarang ini, ya berat sekali. Karena kebanyakan belum berpen­ghasilan. Kalaupun bebera­pa sudah ada yang kerja, tapi masih part time seperti di coffee shop. Masih belum mampu lah intinya,” ungkap Dewi. Ia pun menyebut bahwa para korban ‘Pinjol Siti’ se­perti memakan buah simala­kama. Akibat tergiur komisi 10 persen yang dijanjikan pelaku, saat ini para korban kebingungan bagaimana agar namanya bersih dari catatan keuangan sebagai pemilik utang. “Karena datanya kan sudah masuk aplikasi, jadi bingung juga kalau nggak dibayar, Risiko SLIK OJK ini kan si­fatnya permanen. Nggak akan ada pemulihan sampai tagi­han dibayar. Sementara, masa depan para mahasiswa yang jadi korbannya juga masih panjang,” sesalnya. “Bagaimana nanti ke depan­nya ada pekerjaan yang mem­butuhkan data BI Checking-nya bagus maka akan jadi ken­dala. Begitu juga kalau nanti ada keperluan untuk ajukan pinjaman untuk usaha, akan sangat susah,” ujar Dewi. Dewi berharap ada kejela­san untuk penyelesaian piu­tang para korban akibat ulah Siti. Bahkan, seluruh korban tidak keberatan mengemba­likan komisi 10 persen yang sempat diberikan pelaku saat awal transaksi. “Berat sekali kalau harus membayar tagihan yang ber­jalan sekarang. Semua korban penginnya mengembalikan komisi yang 10%, itu saja sih. Asal nggak ditagih utang tiap hari,” harapnya. Ulah Siti yang sudah meru­gikan banyak orang hingga mencapai Rp2,3 miliar ru­panya bukan hanya sekali dilakukan. Mantan Ketua RT di ling­kungan SAN tinggal, Kampung Luwuk, RT 01/ 01, Kelurahan Tegalgundil, Kecamatan Bo­gor Utara, Kota Bogor, Ka­maludin, menceritakan bahwa jauh sebelum mahasiswa IPB University mencari-cari ke­beradaannya ke Kampung Luwuk, Siti juga pernah di­datangi pihak perusahaan tempat ia bekerja. Peristiwa itu terjadi pada periode 2018 lalu. Siti pernah dilaporkan perusahaan tem­pat ia bekerja lantaran di­duga terlibat kasus peng­gelapan uang. “Orang perusahaan sempat datang ke saya, tanya-tanya soal dia (Siti, red). Orang itu bilang, dia menggelapkan uang. Dia bawa surat pang­gilan polisi,” kata Kamaludin. “Kalau nggak salah dari Polres Bekasi itu pemang­gilan. Itu 2018-an. Sudah lama juga itu. Nilainya Rp45 juta lah. Itu penjualan kartu perdana,” sambungnya. Tak sampai situ, setelah persoalan dengan pihak pe­rusahaan selesai, Siti kem­bali memunculkan kasus yang hampir serupa. Ia sempat diburu pihak leasing. Saat itu ia diketahui menjual atau menggadaikan sertifikat ru­mah kontrakannya yang ia akali sebagai syarat mem­beli mobil. “Saya lagi pelatihan waktu itu. Istri saya telepon. ‘Pak, ini ada dari leasing’. Jadi ka­tanya dia nggak pernah bayar, tapi unit mobilnya nggak ada,” bebernya. Kamal kembali mencoba mengingat peristiwa itu ter­jadi pada Oktober. SAN saat itu sudah tak tinggal lagi di Kampung Luwuk sejak Maret 2022. Barulah pihak leasing menjelaskan bahwa Siti men­jaminkan rumah kontrakan­nya tersebut dengan men­gubah surat Akta Jual-Beli (AJB). Atas itu, Kamaludin menga­ku tak menyangka bahwa Siti bisa berbuat seperti ini. Sebab, ia dikenal tetangga sebagai pribadi yang sopan. Sementara itu, Kapolres Bogor AKBP Iman Imanud­din mengatakan, modus yang dilakukan Siti menawarkan kerja sama pencairan dan bisnis pada marketplace atau toko online yang diakui mi­lik tersangka. Namun, setelah dikroscek, toko tersebut ru­panya milik orang lain. “Pelaku mengiming-imingi keuntungan 10 sampai 15 persen atas setiap transaksi yang dilakukan para korban,” terang Iman. Perkenalan pelaku kepada mahasiswa IPB University itu diperantarai kakak ting­katnya, ZFR dan RA, yang juga turut menjadi korban. Karena banyak mahasiswa yang tertarik, Siti mengajak para korbannya untuk semi­nar melalui Zoom Meeting. “Pengakuan tersangka, total korbannya ada 317 orang, 116 orang merupakan mahasiswa IPB. Sedangkan untuk total kerugian para korban sekitar Rp2,3 miliar,” paparnya. Iman juga mengaku pi­haknya telah memeriksa sepuluh saksi dalam kasus ini. Penyidik juga tengah melakukan pendalaman un­tuk mencari keterlibatan pihak lain yang membantu Siti dalam melaksanakan aksinya. Tersangka Siti juga menya­rankan para korban melakukan kerja sama dengan mengak­tifkan Shopee PayLater, Shopee Pinjam, Kredivo, dan Akulaku sebagai modal usaha. Dimana utang kepada penyedia jasa pinjol berbeda-beda. Untuk Akulaku Rp500 juta, Kredivo Rp900 juta, Shopee Pinjam Rp400 juta, dan Shopee Pay­Later Rp500 juta. “Hasil koordinasi kami dengan rektor IPB dan apli­kasi penyedia jasa pinjol, total kerugiannya mencapai Rp2,3 miliar. Dari pengakuan pelaku, ia sudah menjalankan aksinya dari Februari. Kor­bannya bukan hanya dari mahasiswa IPB. Ada juga dari kampus lainnya dan masyarakat biasa,” papar Iman. Selain itu, polisi juga me­nyita barang bukti yang sudah berhasil diamankan yakni, satu unit mobil, satu buah handphone, satu buah buku tabungan Bank BCA atas nama SAN, dan satu buah kartu ATM Bank BCA. “Tersangka menggunakan uangnya tersebut untuk biaya hidup, membeli mobil baru, dan membayar utang,” tun­tasnya. (rez/feb/run)  

Editor: admin metro

Tags

Terkini

Plaza Bogor Dibongkar usai Lebaran, Pedagang Girang

Kamis, 2 Februari 2023 | 12:14 WIB

Tiga Bocil Puncak Jadi Korban Pedofil

Rabu, 1 Februari 2023 | 10:02 WIB

9 Korban Wowon Cs Tewas, Terakhir Anak-Istri Dihabisi

Jumat, 20 Januari 2023 | 10:01 WIB
X